Wakos Reza Gautama
Sabtu, 04 April 2026 | 09:11 WIB
Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur dipertimbangkan kembali dibuka untuk wisata edukasi bagi masyarakat. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Taman Nasional Way Kambas mempertimbangkan pembukaan kembali wisata edukasi setelah penanganan konflik gajah dan manusia dinyatakan benar-benar aman.
  • Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, menyatakan pembukaan akses publik bergantung pada keberhasilan mitigasi konflik yang saat ini masih berlangsung.
  • Pihak pengelola fokus mengembangkan ekonomi hijau melalui skema perdagangan karbon dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan tersebut.

SuaraLampung.id - Kabar gembira mulai berembus dari rimbunnya hutan Lampung Timur. Taman Nasional Way Kambas (TNWK), ikon konservasi "Raksasa Lembut" Indonesia, kini tengah mempertimbangkan untuk kembali membuka pintunya bagi para pecinta wisata edukasi.

Namun, pembukaan ini bukan tanpa syarat. Saat ini, suasana di balik gerbang TNWK masih "panas". Bukan karena cuaca, melainkan karena para petugas sedang berjibaku di garis depan untuk menangani konflik antara gajah dan manusia yang kian intens.

Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, mengungkapkan bahwa keterbatasan personel menjadi alasan utama mengapa taman nasional ini masih digembok untuk publik. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga di sekitar hutan dan kelestarian gajah itu sendiri.

"Jika April nanti, atau setidaknya bulan depan, penanganan konflik bisa berjalan dengan baik dan keadaan dipastikan aman, maka personel bisa mulai kami tarik kembali ke fungsi pelayanan. Di saat itulah, kami akan mempertimbangkan secara serius untuk membuka kembali Way Kambas," ujar Zaidi, Jumat (3/4/2026).

Ia menekankan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru. Keamanan pengunjung dan ketenangan habitat satwa adalah harga mati.

"Kami pastikan dulu situasinya pulih seperti semula. Jika sudah memungkinkan, kami akan segera merapatkannya untuk memutuskan tanggal pembukaan," tambahnya.

Sambil menunggu gerbang wisata terbuka, TNWK ternyata sedang berbenah. Ke depan, Way Kambas tidak hanya akan dikenal sebagai tempat melihat gajah, tetapi juga sebagai pusat ekonomi hijau.

Zaidi menjelaskan, pihaknya tengah menggenjot program pemberdayaan bagi desa-desa penyangga di sekitar hutan. Salah satu terobosan besarnya adalah melalui skema perdagangan karbon (carbon trading) dan pengembangan wisata ekologi berkelanjutan.

"Ini adalah investasi masa depan. Hutan tetap lestari, satwa terlindungi, namun masyarakat sekitar tetap mendapatkan nilai ekonomi yang nyata," kata Zaidi optimis. (ANTARA)

Baca Juga: Belum Balik Kerja? Ini 7 Tempat Wisata di Lampung yang Justru Sepi Setelah Lebaran

Load More