- Kebakaran hutan melanda 2.306,38 hektare Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, terjadi saat periode musim hujan (Januari 2026).
- Penyebab kebakaran ini dicurigai melibatkan unsur kesengajaan karena terjadi di tengah kondisi cuaca yang tidak mendukung kebakaran alami.
- Personel gabungan telah melakukan pemadaman, pemantauan ekosistem, dan kini menunggu hasil analisis pasti mengenai sumber api kebakaran tersebut.
SuaraLampung.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, namun kali ini terjadi dalam situasi yang memunculkan tanda tanya besar. Lebih dari 2.300 hektare kawasan konservasi itu terbakar saat wilayah Lampung tengah memasuki musim hujan.
Berdasarkan hasil pengukuran lapangan yang dilakukan pada 25–26 Januari 2026, Balai TNWK mencatat luas area terdampak kebakaran mencapai 2.306,38 hektare, tersebar di sejumlah resort dan wilayah pengelolaan taman nasional.
Secara umum, karhutla kerap terjadi saat kemarau panjang, suhu tinggi, dan kelembapan rendah. Namun kondisi tersebut tidak sepenuhnya terjadi di Way Kambas saat kebakaran ini muncul.
Fakta bahwa api bisa menyebar luas di tengah musim hujan menimbulkan pertanyaan serius, baik dari masyarakat maupun pegiat lingkungan. Banyak pihak menilai kebakaran ini tidak bisa dilepaskan dari faktor manusia, bukan semata akibat alam.
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Zaidi, secara terbuka menyampaikan bahwa penyebab kebakaran masih dalam proses analisis. Namun ia tidak menampik adanya dugaan unsur kesengajaan.
Menurut Zaidi, kondisi cuaca yang sedang memasuki musim hujan menjadi indikator penting dalam menilai sumber kebakaran. “Memang kami belum bisa memastikan penyebabnya. Tapi kalau melihat cuaca yang sedang musim hujan saat ini, tidak tertutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan,” ujarnya.
Pernyataan ini memperkuat kecurigaan bahwa kebakaran di kawasan konservasi tidak terjadi secara alami.
Setelah kebakaran meluas, personel gabungan dari Balai TNWK, TNI, Polri, dan pihak terkait dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Upaya tersebut kemudian dilanjutkan dengan mop up dan pemantauan intensif, guna memastikan tidak ada bara api yang tersisa.
Balai TNWK menyebut hingga saat ini belum ditemukan bangkai satwa dilindungi di area terdampak. Meski begitu, pemantauan ekosistem tetap dilakukan untuk melihat dampak jangka panjang terhadap habitat satwa liar.
Baca Juga: Nelayan di Lampung Ditemukan Tewas Setelah Kapalnya Terbalik Saat Melaut
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil analisis dan berita acara pemadaman. Balai TNWK juga telah merekomendasikan penyelidikan lanjutan, sekaligus peningkatan patroli di wilayah-wilayah yang dinilai rawan kebakaran.
Kasus ini kembali membuka diskusi besar soal pengawasan kawasan konservasi, terutama di saat kondisi alam sebenarnya tidak mendukung terjadinya kebakaran besar.
Way Kambas dikenal luas sebagai salah satu taman nasional penting di Indonesia dan dunia, terutama dalam upaya konservasi satwa langka. Terbakarnya ribuan hektare kawasan ini di musim hujan dinilai berpotensi mencoreng upaya perlindungan lingkungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Kini publik menanti jawaban tegas: apakah kebakaran ini murni kelalaian, faktor alam yang tak terduga, atau benar adanya unsur kesengajaan yang merusak kawasan konservasi?
Berita Terkait
-
Nelayan di Lampung Ditemukan Tewas Setelah Kapalnya Terbalik Saat Melaut
-
7 Fakta Sweet Indo Lampung, Raksasa Gula yang HGU-nya Dicabut Pemerintah
-
Menelusuri Kebun Kopi Robusta di Lampung Barat, Dari Lereng hingga Secangkir Kopi Juara
-
7 Fakta Kasus Perjalanan Dinas Fiktif DPRD Lampung Utara Rugikan Negara Rp2,9 Miliar
-
5 Fakta Viral Polisi Kejang-kejang Usai Kecelakaan di Kemiling Bandar Lampung
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Niat Baik Berujung Duka: Bantu Renovasi Warung, Pria Tewas Terjatuh dari Tangga di Tanggamus
-
Percikan Korsleting Mobil Hanguskan 5 Rumah di Lampung Barat, Kerugian Miliaran
-
Tanggamus Diguncang Gempa, 1 Rumah di Argopeni Alami Kerusakan Ringan
-
Bedah 18 Ribu Hektare Jalur Air, Skema Canggih BBWS Redam Banjir Kronis di Bandar Lampung
-
Bukan Bali atau Labuan Bajo, Tur Jet Pribadi Rp3,6 Miliar Keliling Dunia Malah Pilih Lampung