- Pemerintah pusat mencabut HGU seluas 85.244 hektare atas nama PT Sweet Indo Lampung di Lampung.
- Pencabutan ini tindak lanjut temuan BPK bahwa lahan tersebut berada di atas tanah milik Kementerian Pertahanan.
- Lahan bekas HGU tersebut diperkirakan bernilai Rp14,5 triliun dan akan digunakan untuk pertahanan negara.
SuaraLampung.id - Pemerintah pusat mengambil langkah tegas dalam penataan aset negara di Provinsi Lampung. Salah satunya adalah pencabutan sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) seluas puluhan ribu hektare yang tercatat atas nama PT Sweet Indo Lampung, yakni bagian dari grup besar penghasil gula di Indonesia.
Berikut 7 fakta penting yang mengenai langkah Pemerintah Prabowo ini:
1. Pemerintah Mencabut HGU Seluas 85.244 Hektare
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid memastikan telah mencabut HGU seluas 85.244,925 hektare di Lampung atas nama PT Sweet Indo Lampung dan entitas lain satu grup. Lahan itu berada di atas tanah milik Kementerian Pertahanan yang dikelola TNI Angkatan Udara (AU).
2. Ini Termasuk Lahan Bekas Industri Gula
Lahan HGU yang dicabut selama ini menampung tanaman tebu dan pabrik gula yang dikelola oleh anak usaha dari Sugar Group Companies (SGC), salah satu produsen gula terbesar di Indonesia.
3. Keputusan Ini Berdasarkan Temuan BPK
Pencabutan HGU merupakan tindak lanjut dari temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) sejak tahun 2015, 2019, dan 2022, yang menemukan bahwa sertifikat HGU tersebut terbit di atas tanah negara milik Kemhan.
4. Tanah Akan Kembali ke Negara
Baca Juga: Promo Popok Bayi Alfamart, Sweety hingga MamyPoko Lebih Murah: Diskon Hingga 40 Persen
Setelah pencabutan, lahan tersebut akan dikembalikan kepada pihak yang berhak, yakni Kementerian Pertahanan (Kemhan). Selanjutnya TNI AU akan menempuh proses administratif untuk pengukuran ulang dan penerbitan sertifikat baru atas nama tanah negara.
5. Nilainya Diperkirakan Triliunan Rupiah
Menurut perkiraan BPK, total nilai lahan HGU yang dicabut bernilai sekitar Rp 14,5 triliun, mencakup tanah yang saat ini digunakan untuk perkebunan tebu dan pabrik gula.
6. Rencana Baru untuk Lahan Bekas HGU
Panglima TNI AU dan Wakil Menteri Pertahanan menyatakan bahwa bekas lahan itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan negara, termasuk rencana pembangunan daerah latihan dan fasilitas pendidikan TNI AU, karena dianggap aset strategis bangsa.
7. Tanggapan Masyarakat
Berita Terkait
-
Menelusuri Kebun Kopi Robusta di Lampung Barat, Dari Lereng hingga Secangkir Kopi Juara
-
7 Fakta Kasus Perjalanan Dinas Fiktif DPRD Lampung Utara Rugikan Negara Rp2,9 Miliar
-
5 Fakta Viral Polisi Kejang-kejang Usai Kecelakaan di Kemiling Bandar Lampung
-
Pantai Tanjung Setia untuk Berburu Ombak Kelas Dunia di Pesisir Barat Lampung
-
Ukur Ulang Lahan SGC? Ini Penjelasan Menteri ATR/BPN
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Cekcok Transfer Uang Berujung Maut: Pemilik Kafe di Lampung Timur Tikam Pelanggan
-
Ngamuk Cuma Diberi Rp10 Ribu, Pria Bermasker Hantam Kepala Nenek 71 Tahun di Lampung Barat
-
Modal Obeng, Pemuda 20 Tahun Gasak Mobil Teman Sendiri di Kemiling Demi Gaya Hidup
-
Dobrak Mitos Ketinggian! Lampung Sukses Tanam Arabika di 800 MDPL: Berbuah Kilat Cuma 1,8 Tahun
-
3 Calon Rektor Unila Lolos ke Final: Dr Budiyono Memimpin, Suara Menteri 35 Persen Jadi Penentu