Tasmalinda
Rabu, 18 Februari 2026 | 19:57 WIB
Tradisi nyeruit di Lampung saat Ramadan
Baca 10 detik
  • Nyeruit adalah tradisi makan bersama khas Lampung berupa hidangan sederhana seperti ikan bakar dan sambal terasi.
  • Saat Ramadan, nyeruit menjadi momen sakral yang mempererat kebersamaan keluarga dan tetangga saat berbuka puasa.
  • Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan, kesederhanaan, gotong royong, serta mempertahankan identitas budaya Lampung.

SuaraLampung.id - Menjelang waktu berbuka puasa, aroma sambal terasi dan ikan bakar mulai tercium dari dapur-dapur warga. Di beberapa rumah, keluarga duduk melingkar di lantai, lauk sederhana tersaji di tengah. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat.

Inilah “Nyeruit”, tradisi makan bersama khas Lampung yang lebih dari sekadar urusan perut. Saat Ramadan, nyeruit menjadi momen sakral yang mempererat kebersamaan keluarga dan tetangga.

Nyeruit adalah tradisi makan bersama dengan cara berkumpul melingkar dan menyantap hidangan secara bersama-sama. Biasanya menu utama berupa ikan bakar atau goreng, lalapan segar, dan sambal terasi khas Lampung yang pedas menggigit.

Namun yang membuat nyeruit istimewa bukan hanya makanannya, melainkan suasana kebersamaan yang tercipta.

Saat bulan suci tiba, tradisi nyeruit justru semakin terasa hangat. Banyak keluarga di Lampung menjadikannya agenda berbuka puasa bersama di rumah.

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, duduk bersama sambil menikmati hidangan sederhana menjadi cara untuk mensyukuri nikmat Ramadan.

Tak jarang, nyeruit juga dilakukan bersama tetangga atau kerabat. Satu keluarga membawa ikan, yang lain membawa lalapan, dan yang lain lagi menyiapkan sambal. Semua berbagi.

Di tengah modernisasi dan tren restoran kekinian, nyeruit tetap bertahan sebagai simbol identitas budaya Lampung.

Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan gotong royong. Tidak ada yang merasa lebih tinggi. Semua duduk sama rendah, menikmati hidangan dari wadah yang sama.

Baca Juga: Tempat Karaoke di Lampung Timur Ditutup Permanen, Pemilik Kecewa, Nilai Pemerintah Tebang Pilih

Dalam konteks Ramadan, nilai tersebut menjadi semakin bermakna. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan ego dan mempererat hubungan antar sesama.

Kini, beberapa rumah makan di Lampung juga mengangkat konsep nyeruit sebagai paket buka puasa bersama. Wisatawan pun mulai mengenal tradisi ini sebagai bagian dari pengalaman kuliner lokal.

Bagi generasi muda, nyeruit menjadi cara untuk tetap terhubung dengan akar budaya di tengah gaya hidup modern.

Tradisi nyeruit bukan hanya tentang makan bersama, tetapi tentang membangun komunikasi, mempererat silaturahmi, dan menjaga warisan budaya.

Di bulan Ramadan, ketika nilai kebersamaan semakin terasa, nyeruit menjadi simbol bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hidangan mewah, tetapi dari kebersamaan yang tulus.

Load More