Karena suara Kukang tak akan pernah terdengar jika tak ada yang bersedia menyuarakannya.
Ia mencontohkan peliputan konflik antara manusia dan harimau di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).
"Isu yang diangkat kadang melebar, tidak fokus pada akar masalah yaitu kerusakan habitat dan konflik ruang hidup," jelasnya.
Sementara itu, Hendri Sihaloho, salah satu narasumber dalam pelatihan, menegaskan urgensi pendekatan jurnalisme konservasi di tengah derasnya arus informasi yang kerap mengabaikan isu-isu lingkungan.
Menurutnya, jurnalis tidak cukup hanya menjadi penyampai fakta, tetapi harus berani berpihak—berpihak pada kelestarian alam, pada suara-suara yang tak terdengar seperti jeritan hutan yang ditebang atau kehidupan satwa yang terusir.
“Jurnalisme bukan hanya soal netralitas, tapi juga soal keberpihakan pada masa depan,” tegas Hendri.
Ia mendorong para jurnalis untuk menggali lebih dalam, mencari akar persoalan lingkungan, dan menuliskannya dengan nurani, bukan sekadar mengejar sensasi atau kecepatan.
Dalam pandangannya, keberanian seorang jurnalis dalam menyuarakan krisis ekologi dapat menjadi pemantik kesadaran publik dan bahkan memengaruhi arah kebijakan.
"Jurnalis harus mampu mempengaruhi arah kebijakan publik lewat tulisannya. Jangan hanya berhenti pada peliputan," ujar Hendri yang dikenal sebagai pegiat media lingkungan.
Baca Juga: Bulog "Tidur", Petani Jagung Lampung Timur Gigit Jari: Harga Anjlok, Jagung Membusuk
Ketua AJI Bandar Lampung, Dian Wahyu Kusuma, berharap pelatihan ini bisa memberi dampak nyata. "Kami ingin para jurnalis yang ikut mampu menyuarakan isu lingkungan secara berkelanjutan," ucap Dian.
Sebagai tindak lanjut, pada Rabu (14/5/2025), seluruh peserta pelatihan dijadwalkan untuk turun langsung ke lokasi konservasi Kukang di wilayah Kabupaten Tanggamus.
Mereka juga akan menemui kelompok tani hutan yang selama ini terlibat dalam pelestarian kawasan hutan.
Langkah ini bertujuan agar jurnalis tak hanya menulis dari balik meja, tapi benar-benar memahami persoalan lingkungan dari lapangan dan narasumber langsung.
AJI dan YIARI berharap, ke depan akan lebih banyak berita lingkungan yang informatif dan menggugah kesadaran publik.
Kontributor : Agus Susanto
Berita Terkait
-
Bulog "Tidur", Petani Jagung Lampung Timur Gigit Jari: Harga Anjlok, Jagung Membusuk
-
Tips Memilih Hewan Kurban di Idul Adha 2025
-
Pungli Pasar Gudang Lelang: Bapak 71 Tahun dan Anaknya Diciduk Polisi
-
Sekolah Rakyat Dimulai, Begini Syarat dan Proses Seleksi untuk Siswa Kurang Mampu
-
Viral WNA Mabuk Serempet Mobil di Bandar Lampung, Dikejar Warga hingga Ditangkap Polisi
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Ketika Oknum TNI dan Polri Kompak Selundupkan 5 Kg Sabu di Pelabuhan Bakauheni
-
Perkuat Budaya Integritas, BRI Optimalkan Whistleblowing System dan Anti-Fraud
-
Aksi Kilat Tekab 308 Temukan Mobil Paket yang Dicuri di Lampung Tengah
-
Fasilitas Mewah Harga Kaki Lima! KA Rajabasa Kini Pakai Kursi Premium, Tarif Tetap Rp32 Ribu
-
Geser CCTV Pakai Bambu, Trik Licik Bartender di Bandar Lampung Gasak Harta Teman Kerja