Scroll untuk membaca artikel
Wakos Reza Gautama
Kamis, 03 April 2025 | 14:25 WIB
Warga Pekon Way Empulau Ulu, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat, menggelar Pesta Sekura Cakak Buah di momen Lebaran Idul Fitri 1446 H. [ANTARA]

SuaraLampung.id - Di momen Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Kabupaten Lampung Barat melakukan tradisi turun menurun yang dinamakan Pesta Sekura Cakak Buah.

Salah satu daerah yang menggelar tradisi Pesta Sekura Cakak Buah di Pekon Way Empulau Ulu, Kecamatan Balik Bukit.

Masyarakat daerah ini sejak pagi hari telah siap menggelar kegiatan Sekura Cakak Buah. Di jalan-jalan menuju pesta rakyat, para peserta Sekura dan warga sekitar nampak bergegas menuju pusat acara.

Di depan sebagian rumah-rumah panggung terdapat sejumlah pohon pinang yang berdiri kokoh dengan beragam hadiah di pucuknya yang menandakan pesta silahturahmi antarwarga segera digelar.

Baca Juga: Layanan Perbankan RAFI 2025 dari BRI Pastikan Nasabah Nyaman Bertransaksi Saat Libur Panjang

Topeng-topeng penutup wajah para peserta Sekura dengan karakter baik (betik) hingga buruk (kamak) menambah semarak dan hangat suasana.

Tidak sedikit dari mereka yang membawa aneka dahan atau ranting pepohonan sebagai atribut untuk menambah meriah suasana.

Melalui pengeras suara ,satu-satu Sekura dari perwakilan pekon ( semacam kesatuan masyarakat adat) dipanggil seraya tuan rumah Pekon Way Empulau Ulu memberikan sambutan hangat kepada mereka untuk menghibur para tamu dan warga.

Pesta Sekura Cakak Buah merupakan tradisi yang diadakan oleh masyarakat Kabupaten Lampung Barat dalam menyambut Idul Fitri. Hal ini telah menjadi budaya turun-menurun sejak nenek moyang.

Kondisi ini selaras dengan rumah-rumah panggung masyarakat di Liwa yang masih dipertahankan hingga kini. Bangunan itu menjadi saksi bisu betapa adat budaya Sekura ini telah lama dilakukan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Harga Cabai Meroket Jelang Lebaran! Satgas Pangan Lampung Turun Tangan

Peratin Pekon Way Empulau Ulu, Ahmad Kasmanto, menjelaskan tradisi Sekura Cakak Buah, tidak hanya menjadi warisan adat istiadat di Kabupaten Lampung Barat tetapi juga sarana untuk mempererat kebersamaan dan menghidupkan nilai-nilai leluhur.

Budaya Sekura sudah dilakukan oleh masyarakat Lampung Barat secara turun-temurun tidak hanya di Pekon Way Empulau Ulu, tapi juga hampir seluruh Pekon yang ada di kabupaten ini setiap satu tahun sekali di awal Syawal.

Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang masyarakat Lampung yang positif. Selain untuk mempererat silaturahmi setelah Lebaran, Sekura menjadi momen untuk saling bermaaf-maafan dan berkumpul bersama.

Acara ini memungkinkan masyarakat untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan saudara, bahkan yang dari luar daerah, di satu tempat.

Dalam tradisi Sekura, seluruh komponen masyarakat dilibatkan, tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak, bahkan anak kecil. Hal ini guna memperkenalkan adat dan budaya ini sejak dini kepada anak-anak.

Dengan demikian, diharapkan mereka dapat mengenal dan memahami adat istiadat leluhur, serta menjadi generasi penerus yang melestarikan kegiatan Pesta Sekura.

Pada pesta Sekura terdapat dua aspek Topeng yang dipakai yakni Sekura Kamak dan Sekura Betik. Sekura Kamak biasanya ditandai dengan topeng menyeramkan dan membawa pepohonan. Hal ini melambangkan nafsu, angkara murka, dan kejahatan.

Sementara itu Sekura Betik ditandai dengan penampilan yang rapih dan sopan karena hal ini melambangkan kebaikan. Filosofinya adalah keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan, yang selalu berpasangan dalam kehidupan.

Pesta Sekura Cakak Buah bertahan hingga kini di Lampung Barat karena adanya dukungan dari pemerintah daerah untuk merawat kebudayaan nenek moyang tersebut serta kepekaan masyarakat adat atas warisan para leluhur.

Di zaman yang syarat akan perkembangan modern, memang tidak mudah untuk merawat kebudayaan asli daerah. Terlebih banyak anak-anak di Lampung Barat juga yang beranjak ke kota baik untuk pekerjaan maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Namun begitu, masyarakat Liwa tetap ada dan hadir untuk merayakan pesta Sekura yang harus dijaga. Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus dalam sejumlah kesempatan pun meminta masyarakat untuk melestarikan budaya Pesta Sekura Cakak Buah yang biasa dilaksanakan setiap awal Syawal usai Hari Raya Idul Fitri hingga H+8 Lebaran itu.

Sekura merupakan tradisi unik yang hanya dimiliki oleh Kabupaten Lampung Barat. Tidak semua daerah memiliki budaya seperti ini, sehingga harus ditanamkan rasa bangga atas warisan leluhur ini agar tradisi Sekura tetap terjaga, berada dan penuh nilai-nilai luhur.

Sekura bukan hanya pesta rakyat, lebih dari itu, kegiatan ini mengajarkan tentang gotong-royong dan kebersamaan antar-masyarakat yang menjadi dasar untuk membangun Lampung Barat menjadi kabupaten yang lebih baik lagi.

Oleh karena itu, pesta Sekura yang telah dikenal banyak orang baik dalam negeri maupun luar negeri, tidak sampai dicedrai dengan menggunakan pakaian yang kurang sopan dan hal negatif lainnya.

Terus menjaga dan melestarikan adat budaya ini dengan memunculkan nilai-nilai positif di dalamnya, sehingga Lampung Barat diharapkan akan terus dikenang orang sebagai daerah budaya. (ANTARA)

Load More