Scroll untuk membaca artikel
Wakos Reza Gautama
Rabu, 06 Oktober 2021 | 16:15 WIB
Polair mencari nelayan yang hilang di perairan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, Rabu (6/10/2021. [Suaralampung.id/Agus Susanto]

Pukul 06.00, Fauzi dan empat temannya berangkat menyusuri sungai menuju laut menaiki kapal 4 GT. Miswanto, rekan korban satu perahu, mengatakan pada pukul 07.00 mereka melakukan penangkapan pertama menggunakan jaring payang. 

"Jam 6 pagi kami berangkat, jam 7 kami melakukan penangkapan pertama dengan menggunakan jaring payang, pukul 8 tebaran kedua, dan tebaran ketiga pukul 9 pagi awal peristiwa nahas terjadi," cerita Miswanto.

Ketika jaring ketiga ditebar, menurut Miswanto, mesin kapal tiba-tiba mati. Fauzi berupaya menghidupkan mesin kapal. 

Ketika pria anak satu itu memutar mesin dengan besi pemutar (engkol), besinya terpental. Menghindari besi yang terpental, Fauzi reflek menceburkan diri ke laut. 

Baca Juga: Nelayan Hilang di Perairan Labuhan Maringgai Lampung Timur Belum Ditemukan

"Sebenarnya Fauzi itu tidak bisa berenang, tapi karena reflek tercebur ke dalam laut. Hanya hitungan detik Fauzi tenggelam," kata Miswanto.

Melihat Fauzi tercebur ke laut, spontan Miswanto berupaya menolong. Ia mengikatkan tali tambang ke tubuhnya lalu menceburkan diri ke laut mencari Fauzi. Sayang upaya Miswanto gagal. Fauzi menghilang di tengah lautan. 

Kecerobohan Syahbandar

Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Lampung Timur Andi Baso, menegaskan peristiwa hilangnya Fauzi di perairan Labuhan Maringgai, Senin (4/10/2021) karena kelalaian pegawai Syahbandar.

Seharusnya, kata dia, sebelum kapal berangkat berlayar, Syahbandar memeriksa kapal beserta awaknya terkait alat pengamanan dan kondisi kapal.

Baca Juga: Sampan Berbelok Arah, Anak Nelayan di Karangasem Ini Teriak Ayahnya Jatuh Dan Hilang

"Bisa kami katakan 80 persen dari jumlah 1.600 kapal yang ada di pesisir Lampung Timur, tidak pernah terpantau oleh Syahbandar, baik keberangkatan ataupun kepulangan," tegas Andi Baso.

Load More