- Kota Bandar Lampung mengalami lonjakan kasus ISPA hingga 716 kasus pada Senin akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
- Kecamatan Telukbetung Timur, Kedamaian, Rajabasa, dan Tanjungkarang Pusat menjadi wilayah dengan laporan keluhan pernapasan terbanyak.
- Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung memperketat surveilans lapangan karena belum dapat memastikan debu vulkanik sebagai penyebab langsung.
SuaraLampung.id - Udara di Kota Bandar Lampung sedang tidak bersahabat sejak terjadi hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau beberapa hari belakangan.
Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) mencatat sebuah tren yang tak bisa diabaikan. Hanya dalam hitungan hari, angka warga yang mengeluhkan gangguan pernapasan meningkat tajam atau ISPA.
Pada 4 September tercatat ada 527 kasus, angka itu melompat menjadi 632 kasus di hari berikutnya, dan puncaknya menyentuh angka 716 kasus pada Senin (7/9/2026).
Penyebaran kasus ini tidak merata, namun terkonsentrasi di beberapa titik. Warga di Kecamatan Telukbetung Timur, Kedamaian, Rajabasa, hingga Tanjungkarang Pusat menjadi yang paling banyak melaporkan keluhan napas yang berat.
Baca Juga:Bandara Radin Inten II Lampung Beroperasi Lagi Usai Kepungan Abu Krakatau
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, mengakui adanya korelasi waktu antara lonjakan kasus ini dengan periode erupsi sang gunung api di Selat Sunda. Namun, sebagai otoritas kesehatan, ia memilih untuk tetap berhati-hati sebelum mengetuk palu vonis.
"Peningkatan ini memang bertepatan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, berdasarkan data jangka pendek ini, kami belum bisa menyatakan secara definitif bahwa debu vulkanik adalah penyebab langsungnya," ujar Muhtadi, Selasa (8/9/2026).
Diskes tidak tinggal diam melihat grafik yang terus menanjak. Surveilans di lapangan kini diperketat. Instruksi tegas telah dikeluarkan ke seluruh Puskesmas untuk validasi data harus berlapis.
Pemerintah ingin memastikan tidak ada angka ganda atau kesalahan input, agar kebijakan yang diambil nantinya benar-benar presisi.
Meski angka ISPA melonjak, Muhtadi memberikan sedikit kabar baik. Penyakit penyerta lain yang biasanya muncul bersamaan dengan kualitas udara buruk, seperti pneumonia, asma, iritasi mata, hingga dermatitis, sejauh ini masih terpantau stabil di angka normal.
Baca Juga:Gunung Anak Krakatau 'Muntah-muntah' Lagi Selasa Pagi Ini, 3 Kali Erupsi
"Kami terus memantau, terutama di kecamatan dengan laporan tertinggi. Ini penting untuk mendeteksi sedini mungkin jika ada perubahan pola penyakit di masyarakat," tambahnya. (ANTARA)