- Abu vulkanik Anak Krakatau berukuran sangat kecil memicu lonjakan kasus ISPA di Tanggamus pada Minggu, 6 September 2026.
- Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengimbau warga memakai masker serta pelindung diri dan melarang penyapuan abu secara kering.
- Pemerintah Provinsi menyiagakan lima regional sistem rujukan rumah sakit di lima belas kabupaten atau kota untuk menghadapi ancaman ini.
SuaraLampung.id - Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dilaporkan mulai merangkak naik di Bumi Ruwa Jurai sejak abu vulkanik Anak Krakatau menghujani Lampung.
Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Lampung baru saja merilis temuannya. Sampel abu vulkanik yang menghujani wilayah Lampung memiliki ukuran hanya 5 hingga 10 mikrometer.
Sebagai gambaran, ukurannya jauh lebih kecil dari sehelai rambut manusia, namun dengan permukaan yang tidak beraturan dan cenderung tajam.
"Partikel ini perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan iritasi parah pada saluran pernapasan, mata, hingga kulit," jelas otoritas kesehatan setempat.
Baca Juga:Darurat Abu Krakatau: 29 Pesawat di Bandara Radin Inten II Gagal Terbang
Di Kabupaten Tanggamus, dampaknya sudah nyata. Hanya dalam waktu 24 jam, kasus ISPA melonjak hampir dua kali lipat, dari 46 kasus menjadi 76 kasus pada Minggu (6/9/2026).
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, meminta masyarakat tidak tertipu oleh pandangan mata. Meski gunung tampak tenang secara visual, "jantung" vulkaniknya masih berdenyut kencang dengan belasan kali gempa frekuensi rendah dan tremor menerus.
"Yang pertama tetap tenang dan jangan panik, tetapi jangan pula kita menurunkan kewaspadaan," tegas Jihan.
Pesannya adalah pelindungan diri. Masker bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Baju lengan panjang dan kacamata pelindung (goggles) menjadi tameng utama bagi siapa saja yang terpaksa harus keluar rumah.
Pemerintah Provinsi tidak tinggal diam. Sebanyak 15 kabupaten/kota telah disiagakan dalam lima regional sistem rujukan rumah sakit.
Baca Juga:Erupsi Gunung Anak Krakatau Mereda: Polisi Tetap Perketat Patroli Laut
Dari obat-obatan hingga tabung oksigen, semuanya telah diposisikan di garis depan, terutama di wilayah yang berada dalam garis api Anak Krakatau.
Bahkan, strategi pembersihan pun berubah. Warga dilarang keras menyapu abu dalam kondisi kering karena hanya akan membuat kaca mikroskopis tersebut beterbangan kembali ke udara.
"Gunakan pemadam kebakaran untuk menyiram ruang publik, pastikan debu itu basah dan luruh," perintah Jihan kepada pemerintah kabupaten/kota.
Di tengah ancaman sulfur dioksida (SO2) yang mulai pekat di udara Bandar Lampung, perhatian ekstra kini tertuju pada mereka yang paling lemah yakni anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Mereka adalah kelompok yang paling cepat tumbang oleh tajamnya abu vulkanik.
Anak Krakatau masih bersatus Level III (Siaga). Selama rona merah di kawahnya belum padam, warga Lampung diminta untuk terus memantau informasi resmi dan tetap berada di dalam rumah.