- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menghentikan sekolah tatap muka selama dua hari sejak Minggu, 6 September 2026.
- Kebijakan pembelajaran daring dan penghentian aktivitas luar ruangan diambil akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
- Pemerintah Provinsi Lampung mengimbau seluruh masyarakat agar tetap tenang dan hanya memantau informasi dari sumber resmi.
SuaraLampung.id - Gunung Anak Krakatau (GAK), kembali menunjukkan geliatnya. Namun, kali ini eksistensinya bukan sekadar pemandangan alam, melainkan alarm kewaspadaan bagi ribuan siswa di Bumi Ruwa Jurai.
Menyikapi sebaran abu vulkanik yang mulai membayangi kesehatan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengambil langkah tegas.
Selama dua hari kedepan, seluruh kegiatan belajar mengajar diinstruksikan untuk beralih ke mode dalam jaringan (daring).
"Kami meminta sekolah melakukan pembelajaran secara daring dalam dua hari ini," ujar Rahmat Mirzani Djausal, Minggu (6/9/2026).
Baca Juga:Sisa Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau Masih Terlihat di Bandarlampung
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Bagi Mirza, kesehatan paru-paru generasi muda Lampung adalah prioritas yang tak bisa ditawar.
Abu vulkanik yang halus namun tajam merupakan ancaman nyata bagi sistem pernapasan, terutama bagi anak-anak yang aktif di luar ruangan.
Tak hanya soal belajar-mengajar, keriuhan lapangan olahraga dan barisan rapi upacara bendera pun harus senyap untuk sementara.
"Seluruh kegiatan sekolah, terutama yang dilakukan di luar ruangan termasuk olahraga dan upacara, semuanya dihentikan sementara," tegasnya.
Anak Krakatau memang tengah menjadi sorotan tajam pemerintah daerah. Sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, bersanding dengan nama-nama besar seperti Gunung Semeru, Lewotobi Laki-Laki, dan Sinabung, pergerakannya terus dipantau nyaris tanpa jeda.
Baca Juga:Bakauheni-Merak Normal: Terlihat Abu Erupsi Anak Krakatau, Ombak Kencang
Langkah mitigasi telah digulirkan sejak Jumat lalu. Pemerintah Provinsi Lampung terus memelototi data dari pos pengamatan demi memastikan keselamatan warga.
Di tengah hujan abu yang mungkin turun, Gubernur mengimbau masyarakat untuk tidak termakan spekulasi liar atau hoaks yang kerap bertebaran di media sosial.
"Kami terus melakukan upaya mitigasi. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan selalu mencari informasi berdasarkan sumber resmi terkait perkembangan ini," tambahnya. (ANTARA)