- Radit Setiawan, seorang ABK berusia 18 tahun, jatuh dari kapal nelayan saat perjalanan pulang pada Minggu (26/7/2026).
- Tim SAR Gabungan melakukan pencarian selama enam hari di perairan Pesawaran meskipun terkendala sinyal komunikasi yang tidak stabil.
- Korban ditemukan meninggal dunia pada Jumat (31/7/2026) sejauh 10,35 kilometer dari lokasi awal, sehingga operasi SAR resmi dihentikan.
SuaraLampung.id - Laut di sekitar Pulau Kelagian, Pesawaran, akhirnya menyerahkan apa yang selama enam hari ini ia simpan. Penantian panjang nan menyesakkan keluarga Radit Setiawan (18) menemui titik akhirnya pada Jumat (31/7/2026) siang. Bukan pelukan hangat kepulangan yang mereka dapati, melainkan kepedihan mendalam di atas kantong jenazah.
Radit, anak buah kapal (ABK) muda yang dilaporkan hilang setelah terjatuh dari kapal nelayan pada Minggu (26/7/2026), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Tubuhnya ditemukan terombang-ambing sejauh 10,35 kilometer dari lokasi awal ia dinyatakan hilang.
Peristiwa pahit ini bermula pada Minggu sore, sekitar pukul 17.30 WIB. Saat itu, kapal nelayan yang ditumpangi Radit tengah membelah ombak dalam perjalanan pulang menuju Telukbetung, Bandar Lampung. Di tengah deru mesin kapal, rekan-rekannya terperanjat melihat Radit terjatuh ke laut.
Nakhoda seketika memutar haluan, mencoba mengejar waktu dan sosok Radit yang timbul tenggelam. Namun, laut bergerak lebih cepat.
Baca Juga:Ditelan Perairan Pulau Kelagian: Remaja 18 Tahun yang Hilang dari Kapal
Dalam hitungan detik, tubuh pemuda 18 tahun itu lenyap dari pandangan, meninggalkan permukaan air yang kembali tenang namun menyimpan misteri.
Selama enam hari pencarian, Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, Lanal, Polairud, hingga masyarakat setempat, harus bertaruh dengan waktu dan alam.
Pencarian ini bukan tanpa hambatan. Di tengah perairan Pesawaran, sinyal komunikasi yang timbul tenggelam menjadi tantangan berat bagi koordinasi tim.
"Kami menghadapi kendala sinyal komunikasi yang kurang stabil serta minimnya petunjuk di lapangan," ungkap Santosa, Dantim Rescuer Basarnas Lampung.
Meski demikian, teknologi canggih seperti Aqua Eye dan alat pencari bawah air (Underwater Search Device) terus dikerahkan menyisir kedalaman laut. Perahu-perahu nelayan pun tak lelah ikut menyisir setiap sudut perairan, berharap ada keajaiban yang muncul ke permukaan.
Baca Juga:Maut di Tikungan Gelap: Perjalanan Terakhir Andre Saputra di Arus Irigasi Batanghari
Harapan itu pupus pada pukul 14.05 WIB, Jumat siang. Tim menemukan Radit di posisi yang cukup jauh dari titik kejadian.
Arus laut rupanya telah membawa tubuhnya sejauh 10 kilometer lebih. Setelah dievakuasi dengan penuh haru, jasad Radit segera diserahkan kepada pihak keluarga untuk diistirahatkan dengan layak.
"Dengan telah ditemukannya korban, Operasi SAR resmi dihentikan. Seluruh unsur yang terlibat kami kembalikan ke kesatuan masing-masing," pungkas Santosa.