Sosok Pramudya Kusumawardana, Selalu Diremehkan Orang Tua dan Tak Pernah Mendapat Apresiasi Sang Ayah

Pramudya Kusumawardana mempersembahkan kemenangan itu untuk almarhum sang ayah Slamet Riyanto.

Wakos Reza Gautama
Rabu, 04 Mei 2022 | 03:50 WIB
Sosok Pramudya Kusumawardana, Selalu Diremehkan Orang Tua dan Tak Pernah Mendapat Apresiasi Sang Ayah
Ilustrasi Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan. Pramudya Kusumawardana mempersembahkan gelar Juara Asia 2022 untuk almarhum sang ayah Slamet Riyanto. [ANTARA/Roy Rosa Bachtiar]

SuaraLampung.id - Ganda putra Indonesia Pramudya Kusumawardana / Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan berhasil menjuarai ajang Kejuaraan Asia 2022

Di Final, Pram/Yere mengalahkan pasangan terkuat Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik lewat dua game langsung 23-21, 21-10.

Usai menjadi kampiun Asia 2022, Pramudya Kusumawardana menulis pesan menyentuh di akun Instagramnya. 

Di dalam postingannya, Pram mempersembahkan kemenangan itu untuk almarhum sang ayah Slamet Riyanto. 

Baca Juga:Top 5 Sport: Medali Perak Kejuaraan Asia Tambah Semangat Jonatan Christie

Pram mengaku sang ayah tak pernah sekalipun mengapresiasi prestasi dirinya di dunia bulu tangkis

Bahkan Pramudya mengatakan sang ayah selalu meremehkan kemampuan dirinya sebagai atlet bulu tangkis. 

"Lastly, I dedicated this medal to my dad, who passed away last year. He's always underestimated my ability and never congratulated my successes even once. I hope I still have time to prove to him that I can make it, but unfortunately, I can't.
At least I made it anyway, even though It took much time." tulis Pramudya di Instagram. 

Dalam film dokumenter Pramudya Kusumawardana Melawan Bakat dengan Tekad yang diunggah di akun YouTube Kabizza Fest Kota Sukabumi, Pram mengakui tak pernah mendapat apresiasi dari ayahnya. 

Karena saya ga dapat apresiasi dari keluarga mungkin ya jadi saya kebanyakan mengapresiasi diri sendiri. Jadi kaya miris ya," ujar Pram. 

Baca Juga:Jokowi Beri Ucapan Langsung ke Pramudya/Yeremia Setelah Ganda Putra Kembali Raih Medali Emas Badminton Asia Championship

"Kalo saya juara, dia (ayah) ngomongnya bukan selamat. Belum apa-apa uda gitu. Dia ga pernah ngomong saya bangga sama kamu, kamu mainnya bagus. Ga pernah dia ngomong kaya gitu. Setiap saya menang alah belum apa-apa. Latihan lagi. Pasti kaya gitu," cerita Pram. 

Justru hal itu yang membuat dirinya terus berlatih untuk membuktikan kepada sang ayah. 

"SAya mau dibilang bangga sama papa tapi lama kelamaan saya ga bakal dapat itu dari papa. Jadi saya improve terus. Lebih bagus sih lebih kuat jadinya," kata Pram. 

Menurut Pram hubungannya dengan sang ayah tidak terlalu dekat. Pram mengatakan jarang melakukan kontak dengan ayahnya baik lewat chat atau telepon.

"Di pelatnas biasa teman saya telepon tiap hari. Papa saya ga pernah. Paling seminggu sekali. Paling telepon juga dua menit, tiga menit," ucap dia. 

Pramudya mengaku sang ayah sempat mengucapkan selamat setelah dirinya juara di luar negeri. Namun tetap ditambahi dengan kata belum apa-apa. 

"Setelah saya juara, balik ke Indonesia baru diucapin. Terakhir sih ngomongnya selamat ya dek belum apa-apa. Uda ngomongnya gitu doang," papar dia. 

Setelah sang ayah meninggal dunia, Pramudya Kusumawardana baru menyadari itu adalah cara sang ayah mendidiknya agar kuat. 

"Awalnya kesal sama mereka kaya terlalu keras sama saya. Tapi ke sini-sini saya flashback gitu, mungkin kalo saya ga dikerasin mungkin saya ga kuat ngelewatin tantangan demi tantangan di badminton. Jadi mungkin itu dia menyiapkan saya untuk lebih kuat. Jadi paling support itu orang tua karena dia membiayai, mengayomi, mendidik," ujar Pramudya. 

 Pram berterima kasih kepada sang ayah karena telah mendidiknya dengan keras sehingga ia menjadi sosok yang kuat dalam menghadapi tantangan di dunia bulu tangkis saat ini. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak