Baginya, menjadi tukang atau kuli bukanlah sebuah kehinaan melainkan jadi suatu pelecut semangat demi menggapai mimpi. Selama dua tahun, Waluyo bekerja keras menjadi kuli.
Ia ikut bersama kakaknya yang bekerja sebagai kuli bangunan. Selain untuk menyambung pendidikan sebagaimana yang didambakannya, tentu saja hal itu sekaligus untuk membantu meringankan beban orang tua yang terhimpit masalah ekonomi.
Setelah dua tahun bekerja sebagai kuli, uang atau upah yang ia terima selama itu selalu ditabung. Pada akhirnya, saat penerimaan siswa tahun ajaran baru, Waluyo ikut mendaftar ke SMA favoritnya yakni SMA Negeri Gombong.
"Alhamdulillah, saya mendaftar dan diterima," ujar dia.
Baca Juga:Upacara Tabur Bunga untuk Mengenang Awak KRI Nanggala 402
Termotivasi Teman SD
Seiring berjalannya waktu, Waluyo menikmati masa-masa mengenakan seragam putih abu-abu. Pada suatu momen, sekolahnya kedatangan para Taruna Akademi Militer (Akmil).
Tidak disangka, dari beberapa Taruna Akmil yang datang ke sekolahnya, Waluyo seolah mengenali satu di antaranya.
Benar saja, ia cukup kaget dan haru melihat teman sewaktu SD dan SMP kini telah menjadi Taruna Akmil.
Sejak kejadian itu, ia mulai terinspirasi untuk menjadi taruna layaknya temannya tersebut.
Baca Juga:Melihat Proses Pengecekan Baling-baling KRI Bima Suci
Setelah menamatkan pendidikan, ia mendatangi kedua orang tua dan kerabat terdekat menyampaikan keinginan menjadi seorang taruna.
Satu persatu, Waluyo menyambangi sanak familinya sembari meminta doa agar diterima menjadi taruna.
Pada saat akan mendaftar calon Taruna Akmil, Waluyo menegaskan hanya bermodalkan doa dari kedua orang tua dan keluarga besar.
"Saya hanya minta doa restu, saya ingin mendaftar taruna," kata dia.
Kekuatan doa orang tua, saudara, kakek, nenek dan keluarga besar membawa berkah yang begitu besar kepada Waluyo.
Ia dinyatakan lulus dan diterima di TNI AL. Kini, ia dipercaya oleh TNI menjabat sebagai Komandan Kapal KRI Bima Suci. (ANTARA)