Penampilan memukau itu mengantarkan dia meraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi akhir nomor pita yang mempertinggi prestasi provinsi Lampung.
Sang rookie langsung menjadi primadona baru dalam ajang PON di Bumi Cendrawasih ini.
“I am so speechless, euforianya sangat luar biasa. Saya bersyukur untuk itu,” kata Sutji dengan sumringah saat mengungkapkan kebahagiaan meraih dua medali emas dalam debutnya ini dikutip dari ANTARA.
Cinta pandang pertama
Baca Juga:Jabar Sabet 9 Emas di Biliar PON XX Papua
Usaha dan kerja keras menjadikan senam ritmik sebagai jalan hidup Sutji dimulai dari cinta pada pandangan pertama.
Kecintaannya kepada senam ritmik dimulai saat dia masih gadis cilik berusia 8 tahun yang tinggal di Negeri Paman Sam. Kala itu dia menyaksikan para pesenam ritmik beraksi dengan cantik di atas arena senam saat Olimpiade 2012 dihelat di London.
Ia langsung berterus terang kepada kedua orang tuanya, Andy dan Christina Narendra, bahwa dia mencintai senam ritmik dan ingin menyelami hubungan serius dengan salah satu cabang dari ibunya olahraga itu.
Restu dari kedua orang tuanya itu akhirnya mengantarakan Sutji memulai hidup baru bersama senam ritmik.
Setahun berusaha mengenali dan mendalami senam ritmik, Sutji akhirnya memulai petualangan baru dengan mengikuti kompetisi untuk menguji kemampuannya.
Baca Juga:Rekap Pertandingan PON Papua, Jumat 8 Oktober: Persaingan Juara Umum Makin Sengit
Dia pun terus maju mengarungi kompetisi demi kompetisi di benua Amerika bahkan hingga benua Eropa, keterampilannya pun semakin terasah dan kian matang.