Mengenang Perlawanan Warga Desa Rejoagung Lampung Timur terhadap Belanda

Pertempuran warga Desa Rejoagung, Lampung Timur dengan Belanda diabadikan dalam lukisan di Museum Desa

Wakos Reza Gautama
Senin, 16 Agustus 2021 | 13:27 WIB
Mengenang Perlawanan Warga Desa Rejoagung Lampung Timur terhadap Belanda
Tugu Pos Komando Tentara Revolusi di Desa Rejoagung, Lampung Timur. [ISTIMEWA]

Belanda kembali memasuki wilayah Lampung melalui Pelabuhan Panjang pada 1 Januari 1949.

Mendengar kabar kedatangan Belanda ini, tokoh-tokoh di Kawedanan Metro melakukan konsolidasi guna membendung laju pergerakan pasukan Belanda di wilayah Kawedanaan Metro.

Para tokoh itu mengadakan rapat di sekitar komplek Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan kota Metro kini, pada tanggal 1 Januari 1949.

Rapat itu terlaksana tidak terlepas dari ide Raden Soekarso, ia merupakan Kepala Jawatan Pekerjaan Umum (PU) Metro. Sumber lain menyebutkan bahwa rapat terjadi atas usulan dari Wedana Metro, Idris Reksoatmodjo.

Baca Juga:Penulisan Hari Kemerdekaan 17 Agustus Yang Benar dan Salah

R. Soedarsono dalam artikelnya yang berjudul Sejarah Singkat Makam Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia R. Soekarso, menjelaskan dalam rapat itu berkumpulah para pemimpin di Kawedanaan Metro, ada pimpinan pemerintahan, pimpinan tentara, pimpinan berbagai partai politik, pimpinan laskar rakyat serta badan-badan perjuangan.

Mereka berkumpul sebagai langkah mengambil ancang-ancang menghalau serangan Belanda di Metro. Rapat menghasilkan beberapa kesepakatan.

Di antaranya adalah strategi melawan pasukan Belanda dan pembentukan Pemerintahan Darurat di luar kota. Terpilihlah sebagai Pemerintahan Darurat jika Metro dikuasai Belanda adalah Desa Rejoagung yang berada di sebelah timur Metro.

Dugaan ternyata benar, Metro kemudian dikuasai Belanda. Pemerintahan Darurat kemudian dipindahkan di Desa Rejoagung, Batanghari. Di desa inilah baik pemerintah sipil dan pasukan militer membuat pos komando guna mempertahankan jalannya pemerintahan di Kawedanaan Metro.

Memori inilah yang disajikan Pemerintah Desa Rejogung melalui pembangunan Museum Desa Rejoagung dan Tugu Pos Komando Tentara Revolusi Tahun 1948-1949.

Baca Juga:Ini Link Twibbon Pilihan untuk Semarakan HUT ke-76 Kemerdekaan RI Saat Pandemi Covid-19

Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Jimin, saksi sejarah terjadinya revolusi fisik di Desa Rejoagung. Menurutnya, pembangunan museum dan tugu sebagai upaya mengenang perjuangan aparat pemerintah, pasukan TNI dan warga Desa Rejoagung dalam menghadapi serangan Belanda.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak