- Bandara Radin Inten II Lampung membatalkan 29 jadwal penerbangan pada Senin (7/9/2026).
- Pembatalan terjadi akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang membahayakan keselamatan jalur penerbangan.
- Manajemen bandara meluncurkan program pemulihan layanan bagi penumpang terdampak dan mengimbau pemantauan jadwal maskapai.
SuaraLampung.id - Pesawat yang biasanya menderu di landasan pacu Bandara Radin Inten II Lampung terpaksa berdiam diri di apron pada Senin (7/9/2026). Penyebabnya tak lain tak bukan adalah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK).
Hingga Senin (7/9/2026) pukul 18.00 WIB, manajemen bandara mencatat sebanyak 29 jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan demi alasan keselamatan nyawa manusia.
Keputusan ini diambil setelah sebaran abu vulkanik GAK terdeteksi menyelimuti jalur penerbangan utama dari dan menuju Lampung.
General Manager Bandara Internasional Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, menegaskan bahwa operasional bandara berada di bawah bayang-bayang ancaman vulkanik yang tak bisa diprediksi.
"Sehubungan dengan dampak sebaran abu vulkanik pada jalur penerbangan serta operasional bandara, terdapat 29 penerbangan yang mengalami pembatalan hari ini," ujar Kiki, Senin (7/9/2026).
Pembatalan ini bak efek domino yang memutus konektivitas Lampung dengan dunia luar. Tidak hanya rute gemuk seperti Jakarta (CGK) menuju Lampung (TKG) yang terdampak, namun penerbangan internasional pun ikut tersandera.
Maskapai Transnusa rute Lampung menuju Kuala Lumpur (KUL) dan sebaliknya menjadi salah satu yang harus membatalkan jadwal terbangnya.
Nama-nama besar seperti Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia, Lion Air, hingga Batik Air mengisi daftar panjang penerbangan yang gagal mengudara.
Di tengah tumpukan jadwal yang batal, suasana di terminal keberangkatan menjadi penuh tantangan. Pihak manajemen bandara pun bergerak cepat dengan meluncurkan program Service Recovery Activation.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Mereda: Polisi Tetap Perketat Patroli Laut
Langkah ini merupakan bentuk kepedulian terhadap penumpang yang harus gigit jari karena perjalanan mereka terhambat oleh kondisi alam di luar kendali.
"Ini adalah bentuk komitmen kami dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna jasa, meskipun kondisi operasional saat ini berada di bawah pengaruh aktivitas alam," tambah Kiki.
Bagi masyarakat yang memiliki jadwal terbang dalam waktu dekat, situasi di Radin Inten II masih bersifat dinamis. Penumpang diimbau untuk tidak hanya menunggu di bandara, melainkan aktif memantau kanal resmi maskapai masing-masing. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Erupsi Gunung Anak Krakatau Mereda: Polisi Tetap Perketat Patroli Laut
-
Lengah Karena Terima Telepon, Pria di Bandar Lampung Tewas Disambar Kereta Api
-
Nasib Penyeberangan Merak-Bakauheni di Tengah Geliat Gunung Anak Krakatau
-
Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi: 6 Daerah di Lampung Diselimuti Abu Vulkanik
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Ngamuk Cuma Diberi Rp10 Ribu, Pria Bermasker Hantam Kepala Nenek 71 Tahun di Lampung Barat
-
Modal Obeng, Pemuda 20 Tahun Gasak Mobil Teman Sendiri di Kemiling Demi Gaya Hidup
-
Dobrak Mitos Ketinggian! Lampung Sukses Tanam Arabika di 800 MDPL: Berbuah Kilat Cuma 1,8 Tahun
-
3 Calon Rektor Unila Lolos ke Final: Dr Budiyono Memimpin, Suara Menteri 35 Persen Jadi Penentu
-
Niat Cari Madu, Petani Pesawaran Temukan Kerangka Manusia di Tebing 1.150 MDPL