- Gunung Anak Krakatau masih berstatus Siaga karena aktivitas vulkanik tetap terekam seismik pada Minggu dini hari.
- Polda Lampung meningkatkan patroli perairan untuk melarang nelayan dan wisatawan memasuki radius tiga kilometer dari kawah.
- Warga pesisir diimbau mengenakan masker dan pelindung mata guna mengantisipasi paparan abu vulkanik berbahaya.
SuaraLampung.id - Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai mereda pada Minggu (6/9/2026) dini hari pukul 00.04 WIB. Meskipun asap kawah tak lagi terlihat secara visual akibat tertutup kabut tebal Level 0-III, instrumen seismik milik PVMBG mencatat realita yang berbeda.
Tercatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo 46 milimeter, diikuti belasan gempa low frequency dan gempa hembusan.
Bahkan, tremor menerus atau mikro-getaran masih terekam dengan amplitudo dominan 15 milimeter. Ini adalah bukti sahih bahwa sistem vulkanik di perut bumi Anak Krakatau masih sangat aktif. Sang gunung masih menyandang status Level III (Siaga).
Polda Lampung tak mau kecolongan. Di tengah kondisi cuaca yang berawan dan mendung, personel kepolisian terus menyisir perairan sekitar gunung.
Targetnya memastikan tidak ada nelayan yang nekat menebar jaring atau wisatawan yang mencoba mendekat demi konten media sosial.
"Keselamatan masyarakat adalah prioritas mutlak. Kami mengingatkan nelayan maupun wisatawan agar mematuhi radius aman 3 kilometer dari kawah aktif," tegas Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Yuni Iswandari Yuyun.
Pihak kepolisian juga memberikan peringatan keras kepada pengelola kapal wisata agar tidak menjual bahaya dengan membawa pelancong masuk ke zona merah. Patroli rutin terus ditingkatkan untuk mencegah siapa pun menembus batas berbahaya tersebut.
Bukan hanya ancaman erupsi susulan yang menghantui, namun juga paparan abu vulkanik. Abu yang halus namun tajam ini bisa menjadi musuh dalam selimut, terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki masalah pernapasan.
Masyarakat di pesisir Lampung Selatan diimbau untuk kembali mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Tak hanya itu, pelindung mata menjadi krusial saat udara mulai terasa berdebu.
Baca Juga: Nasib Penyeberangan Merak-Bakauheni di Tengah Geliat Gunung Anak Krakatau
Bagi para pengendara, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan. Abu vulkanik tidak hanya memangkas jarak pandang, tetapi juga bisa mengubah aspal menjadi selicin es saat terkena sedikit air.
Polda Lampung meminta warga untuk tetap tenang dan tidak termakan isu hoaks yang kerap beredar saat aktivitas gunung api meningkat.
"Ikuti perkembangan hanya melalui informasi resmi dari pemerintah," pungkas Kombes Yuni.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Lima Tahun Integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM, UMKM Naik Kelas
-
Dari Pengalaman PMI ke Bisnis Kuliner, Tati Purwanti Bawa Bubur Cirebon ke Taipei
-
Hilang Kendali di Depan Mal Ramayana Bandar Lampung, Pengendara Xeon Tewas Tabrak Pagar Trotoar
-
Kabur Usai Tabrak Motor, Mobil Oknum Polisi Malah Hantam Mobil Rekan Seprofesi di Bandar Lampung
-
Modal Printer Rumahan Cetak Uang Palsu, Pria di Lampung Timur Dibekuk Usai Beli Rokok di Warung