Wakos Reza Gautama
Jum'at, 04 September 2026 | 09:57 WIB
Upaya menekan angka interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terus digencarkan melalui pendekatan berbasis alam. [IST]
Baca 10 detik
  • Komite Gabungan mengembangkan Pagar Sarang Lebah di TNWK Lampung Timur sejak dekade 1980-an untuk mengatasi konflik gajah.
  • Metode alami tersebut menggunakan insting takut gajah terhadap dengungan lebah agar kebun warga tetap aman tanpa melukai satwa.
  • Budidaya lebah Apis cerana menghasilkan madu bernilai ekonomi tinggi serta meningkatkan produktivitas pertanian melalui penyerbukan optimal.

SuaraLampung.id - Selama puluhan tahun, warga di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terjebak dalam dilema klasik yakni hidup berdampingan dengan gajah Sumatera yang megah namun sering kali berujung pada konflik yang merugikan kedua belah pihak.

Sejak dekade 1980-an, interaksi negatif ini seolah menjadi bara dalam sekam yang sulit dipadamkan. Kini, sebuah solusi berbasis alam muncul.

Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK tengah gencar mengembangkan program Pagar Sarang Lebah.

Inovasi ini tidak hanya menjadi benteng pelindung bagi kebun warga, tetapi juga menjadi mesin uang baru yang menjanjikan.

Ketua Komite Gabungan, Brigjen TNI Sriyanto, menjelaskan bahwa metode ini mengadopsi praktik sukses dari Afrika. Logikanya sederhana, gajah memiliki insting alami untuk menghindari lebah.

"Pagar sarang lebah memanfaatkan insting satwa. Suara dengungan dan potensi sengatan lebah akan membuat gajah merasa takut dan menjauh secara alami, tanpa harus melukai atau membuat mereka cedera," ujar Brigjen TNI Sriyanto melalui pers rilis.

Ini adalah solusi win-win. Gajah tetap aman di dalam kawasan konservasi, sementara tanaman pangan milik petani di zona penyangga tetap utuh dari injakan sang raksasa.

Lebih dari sekadar penghalau gajah, lebah jenis Apis cerana yang dibudidayakan ini menyimpan potensi ekonomi yang menggiurkan.

Di tengah tingginya ketergantungan Indonesia pada impor madu, yang mencapai lebih dari 60 persen, warga Way Kambas kini berpeluang menjadi produsen madu lokal yang unggul.

Baca Juga: Nasib Gajah Sumatera Usai Karhutla di Way Kambas

Berdasarkan kalkulasi program, potensi pendapatannya tidak main-main. Satu koloni lebah mampu menghasilkan 5 hingga 8 kilogram madu per tahun.

Dengan harga jual rata-rata Rp150.000 per kilogram, seorang warga yang mengelola 10 koloni saja bisa mengantongi tambahan penghasilan antara Rp7,5 juta hingga Rp15 juta per tahun.

"Ini potensi besar untuk UMKM dan ekonomi keluarga. Konsumsi madu nasional kita terus naik 10-15 persen per tahun, namun suplainya masih kurang," tambah Sriyanto.

Dampak positif program ini ternyata merembet lebih jauh ke sektor pertanian. Lebah dikenal sebagai penyerbuk alami yang ulung. Merujuk data FAO, sekitar 75 persen tanaman pangan sangat bergantung pada jasa penyerbukan lebah.

Kehadiran pagar lebah ini secara otomatis akan meningkatkan produktivitas perkebunan warga di sekitar hutan karena proses penyerbukan yang lebih optimal.

"Keberadaan lebah membantu menjaga ekosistem dan membantu proses penyerbukan tanaman di sekitar perkebunan warga," pungkas Sriyanto.

Load More