- Komite Gabungan mengembangkan Pagar Sarang Lebah di TNWK Lampung Timur sejak dekade 1980-an untuk mengatasi konflik gajah.
- Metode alami tersebut menggunakan insting takut gajah terhadap dengungan lebah agar kebun warga tetap aman tanpa melukai satwa.
- Budidaya lebah Apis cerana menghasilkan madu bernilai ekonomi tinggi serta meningkatkan produktivitas pertanian melalui penyerbukan optimal.
SuaraLampung.id - Selama puluhan tahun, warga di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terjebak dalam dilema klasik yakni hidup berdampingan dengan gajah Sumatera yang megah namun sering kali berujung pada konflik yang merugikan kedua belah pihak.
Sejak dekade 1980-an, interaksi negatif ini seolah menjadi bara dalam sekam yang sulit dipadamkan. Kini, sebuah solusi berbasis alam muncul.
Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK tengah gencar mengembangkan program Pagar Sarang Lebah.
Inovasi ini tidak hanya menjadi benteng pelindung bagi kebun warga, tetapi juga menjadi mesin uang baru yang menjanjikan.
Ketua Komite Gabungan, Brigjen TNI Sriyanto, menjelaskan bahwa metode ini mengadopsi praktik sukses dari Afrika. Logikanya sederhana, gajah memiliki insting alami untuk menghindari lebah.
"Pagar sarang lebah memanfaatkan insting satwa. Suara dengungan dan potensi sengatan lebah akan membuat gajah merasa takut dan menjauh secara alami, tanpa harus melukai atau membuat mereka cedera," ujar Brigjen TNI Sriyanto melalui pers rilis.
Ini adalah solusi win-win. Gajah tetap aman di dalam kawasan konservasi, sementara tanaman pangan milik petani di zona penyangga tetap utuh dari injakan sang raksasa.
Lebih dari sekadar penghalau gajah, lebah jenis Apis cerana yang dibudidayakan ini menyimpan potensi ekonomi yang menggiurkan.
Di tengah tingginya ketergantungan Indonesia pada impor madu, yang mencapai lebih dari 60 persen, warga Way Kambas kini berpeluang menjadi produsen madu lokal yang unggul.
Baca Juga: Nasib Gajah Sumatera Usai Karhutla di Way Kambas
Berdasarkan kalkulasi program, potensi pendapatannya tidak main-main. Satu koloni lebah mampu menghasilkan 5 hingga 8 kilogram madu per tahun.
Dengan harga jual rata-rata Rp150.000 per kilogram, seorang warga yang mengelola 10 koloni saja bisa mengantongi tambahan penghasilan antara Rp7,5 juta hingga Rp15 juta per tahun.
"Ini potensi besar untuk UMKM dan ekonomi keluarga. Konsumsi madu nasional kita terus naik 10-15 persen per tahun, namun suplainya masih kurang," tambah Sriyanto.
Dampak positif program ini ternyata merembet lebih jauh ke sektor pertanian. Lebah dikenal sebagai penyerbuk alami yang ulung. Merujuk data FAO, sekitar 75 persen tanaman pangan sangat bergantung pada jasa penyerbukan lebah.
Kehadiran pagar lebah ini secara otomatis akan meningkatkan produktivitas perkebunan warga di sekitar hutan karena proses penyerbukan yang lebih optimal.
"Keberadaan lebah membantu menjaga ekosistem dan membantu proses penyerbukan tanaman di sekitar perkebunan warga," pungkas Sriyanto.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
Terkini
-
BRI DPLK di BRImo, Solusi Siapkan Dana Pensiun Lebih Awal
-
Terkuak Skenario Berdarah Pembunuhan di Sekampung: Korban Ditikam 29 Kali Demi Menguasai Xpander
-
Fotografer di Lampung Timur Dibantai: Pelaku Diciduk di Bakauheni
-
Niat Siapkan Lahan Tanam Padi, Petani 80 Tahun di Lampung Utara Tewas Terjebak Kobaran Api
-
Gandeng Toyota dan Pertamina, RI Bangun Pusat Bioetanol Modern di Lampung: Sorgum Jadi Senjata Baru