Wakos Reza Gautama
Selasa, 25 Agustus 2026 | 16:21 WIB
Sebanyak 40 personel dari Tim Alfa dari Mabes TNI diterjunkan langsung ke kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) untuk memadamkan titik panas yang sulit dijangkau, Selasa (25/8/2026). [ISTIMEWA]
Baca 10 detik
  • Pada Selasa 25 Agustus 2026, Mabes TNI mengerahkan 55 personel elit ke Taman Nasional Way Kambas.
  • Pasukan diterjunkan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang mengancam habitat gajah serta badak sumatera.
  • Tim menggunakan drone termal dan armada semprot nirawak untuk mendinginkan bara tersembunyi di dalam tanah.

SuaraLampung.id - Deru mesin pesawat Hercules memecah keheningan di atas cakrawala Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Dari perut burung besi itu, satu per satu personel elit TNI melayang di udara, menembus kabut asap.

Ini bukan simulasi perang, melainkan misi melawan amukan si jago merah yang mengancam rumah bagi gajah dan badak sumatera.

Selasa (25/8/2026), upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di TNWK memasuki babak baru yang lebih agresif.

Tim Alfa dari Mabes TNI resmi diterjunkan. Sebanyak 40 personel penerjun payung dan 15 personel spesialis fast-roping dikerahkan langsung ke titik-titik paling terisolasi yang mustahil ditembus lewat jalur darat.

Strategi yang diterapkan kali ini jauh dari konvensional. Sebelum Pasukan Langit mendarat, wilayah hutan dipindai menggunakan drone termal. Alat canggih ini berfungsi memetakan anomali suhu di bawah permukaan tanah.

Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menjelaskan bahwa musuh terbesar saat ini adalah bara yang bersembunyi di dalam tanah.

"Kami melakukan surveillance dulu. Di layar drone, titik-titik yang masih menyimpan panas akan terlihat berwarna kuning atau merah. Itulah yang harus kita waspadai sebelum mereka kembali menjadi api," tegas Kristomei.

Begitu koordinat terkunci, Tim Alfa bergerak cepat. Mereka tidak hanya membawa peralatan manual, tetapi juga didukung oleh armada semprot nirawak. Drone dengan kapasitas hingga 100 liter dikerahkan untuk membombardir titik panas dari udara secara presisi.

Kondisi di lapangan memang menantang. Wilayah yang terbakar didominasi oleh savana dan hamparan alang-alang yang sangat mudah tersulut api.

Baca Juga: Siapa Dalang di Balik Kebakaran Way Kambas? Polda Lampung Incar Potensi Kelalaian Korporasi

Data mencatat, dalam kurun waktu lima hari terakhir, lebih dari 800 hektare lahan di beberapa desa seperti Braja Harjosari dan Braja Kencana telah terdampak.

"Target kami bukan sekadar memadamkan kobaran api yang terlihat, tapi mendinginkan suhu tanah. Kita kejar baranya sebelum dia bangkit menjadi api lagi," tambah Kristomei.

Load More