- Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan meletus dua kali pada Sabtu, 25 Juli 2026.
- Letusan menyemburkan abu vulkanik pekat setinggi 300 meter dari puncak atau 457 meter di atas permukaan laut.
- PVMBG menetapkan status Waspada dan melarang aktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah aktif.
SuaraLampung.id - Ketenangan perairan Selat Sunda pada Sabtu (25/7/2026) sore mendadak berubah menjadi pemandangan yang dramatis. Gunung Anak Krakatau (GAK) dilaporkan mengalami erupsi sebanyak dua kali berturut-turut, memuntahkan kolom abu vulkanik ke langit Lampung Selatan.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi pertama terjadi pada pukul 16.52 WIB, disusul letusan kedua pada pukul 18.00 WIB.
Puncak gunung api legendaris ini seolah mengeluarkan batuk hebat yang menyemburkan material vulkanik setinggi 300 meter dari puncaknya.
Visual dari pos pantau menggambarkan suasana yang mencekam namun megah. Kolom abu yang keluar berwarna kelabu hingga hitam pekat dengan intensitas tebal, bergerak perlahan tertiup angin menuju arah barat laut.
"Benar, hari ini terjadi dua kali erupsi. Ketinggian kolom abu mencapai sekitar 457 meter di atas permukaan laut," ujar Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Suwarno, Sabtu (25/7/2026).
Meski aktivitas vulkanik ini menjadi tontonan alam yang luar biasa, Suwarno mengingatkan bahwa Gunung Anak Krakatau sedang dalam kondisi fluktuatif. Potensi erupsi susulan masih sangat terbuka lebar, mengingat statusnya yang kini berada pada Level II atau Waspada.
Pihak otoritas telah menetapkan garis merah bagi siapa pun yang mendekat. Wisatawan, nelayan, maupun masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.
"Kami minta masyarakat di sekitar Selat Sunda tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Khusus untuk nelayan, pantau terus informasi resmi sebelum memutuskan melaut," tegas Suwarno.
Di tengah fenomena alam ini, masyarakat juga diimbau untuk tidak mudah termakan isu-isu liar atau hoaks yang kerap beredar di media sosial.
Baca Juga: Bukan Destinasi Wisata! Pesona Mematikan Gunung Anak Krakatau yang Terlarang Bagi Wisatawan
PVMBG menekankan bahwa setiap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau akan disampaikan melalui kanal resmi secara real-time. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Bukan Destinasi Wisata! Pesona Mematikan Gunung Anak Krakatau yang Terlarang Bagi Wisatawan
-
Gunung Anak Krakatau Batuk 19 Kali, Jalur Merak-Bakauheni Masih Normal
-
Gunung Anak Krakatau 'Batuk' 19 Kali dalam Sebulan: Selat Sunda Berstatus Siaga
-
Gunung Anak Krakatau Siaga Level II! Kapal Wisata Dilarang Nekat Mendekat
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
- Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme
- Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil
Pilihan
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
-
Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
Terkini
-
Dewi Natalia, Mantri BRI yang Tak Kenal Lelah Bantu Pedagang Keluar dari Jerat Rentenir
-
Dari Pintu ke Pintu, Kisah Dewi Natalia Membawa Pedagang Pasar Lepas dari Rentenir
-
Lima Tahun Integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM, UMKM Naik Kelas
-
Dari Pengalaman PMI ke Bisnis Kuliner, Tati Purwanti Bawa Bubur Cirebon ke Taipei
-
Hilang Kendali di Depan Mal Ramayana Bandar Lampung, Pengendara Xeon Tewas Tabrak Pagar Trotoar