Wakos Reza Gautama
Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:22 WIB
Ilustrasi tambak udang Dipasena. Pemerintah Provinsi Lampung bertekad merevitalisasi kawasan tambak udang Dipasena menggunakan strategi manajemen modern berkelanjutan. [Dok P3UW]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Provinsi Lampung bertekad merevitalisasi kawasan tambak udang Dipasena menggunakan strategi manajemen modern berkelanjutan.
  • Kepala DKP Lampung Bani Ispriyanto menyatakan fokus utama mencakup biosekuriti ketat, efisiensi pakan, dan kualitas air.
  • Langkah transformasi tersebut bertujuan memperkuat daya saing ekspor udang Indonesia menghadapi kompetisi global yang ketat.

SuaraLampung.id - Nama Dipasena pernah menggetarkan pasar udang dunia. Hamparan tambak di Kecamatan Rawajitu Timur, Tulang Bawang ini bukan sekadar lahan budi daya, ia adalah simbol kedaulatan pangan sekaligus mesin ekspor yang legendaris.

Kini, setelah sekian lama berjuang melewati berbagai tantangan, Pemerintah Provinsi Lampung bertekad membangunkan kembali sang raksasa melalui strategi manajemen modern.

Langkah ini bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan sebuah transformasi total. Pemprov Lampung sadar betul bahwa untuk bertarung di panggung global, Dipasena tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memperkuat manajemen budi daya. Baginya, petambak harus dipersenjatai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi berkelanjutan.

"Kita tidak hanya bicara soal infrastruktur seperti saluran inlet dan outlet yang diperbaiki," ujar Bani, Sabtu (25/7/2026).

"Lebih dari itu, ini tentang penguatan manajemen kualitas air, efisiensi pakan, dan penerapan biosekuriti yang super ketat."

Mengapa biosekuriti menjadi harga mati? Di dunia udang, penyakit adalah musuh yang bisa menghancurkan investasi dalam semalam.

Dengan pengawasan ketat dan pendampingan teknis, petambak Dipasena kini diarahkan untuk menjadi lebih profesional dan mandiri.

Ambisi besar ini bukan tanpa alasan. Lampung adalah salah satu lumbung udang terbesar di Indonesia dengan catatan produksi mencapai 59.613 ton pada tahun 2023.

Baca Juga: Palsukan Dokumen Sporadik Tanah, Pria di Bandar Lampung Masuk Penjara

Namun, di pasar luar negeri, udang Lampung harus beradu siku dengan negara-negara raksasa seperti Ekuador, India, Vietnam, dan Thailand.

Persaingan ini brutal. Pembeli global sangat sensitif terhadap mutu. Sedikit saja kualitas tidak stabil, pemasok akan langsung berpaling.

"Efeknya sering dirasakan langsung oleh petambak. Harga di tingkat farm bisa anjlok saat pasar global oversupply," tambah Bani.

Namun, di tengah tekanan itu, ada celah peluang. Perubahan kurs mata uang belakangan ini justru membuat udang asal Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional.

Inilah momentum emas yang ingin ditangkap Pemprov Lampung dengan mendorong sertifikasi mutu, traceability (ketertelusuran), dan jaminan keamanan pangan. (ANTARA)

Load More