- Pemerintah Provinsi Lampung bertekad merevitalisasi kawasan tambak udang Dipasena menggunakan strategi manajemen modern berkelanjutan.
- Kepala DKP Lampung Bani Ispriyanto menyatakan fokus utama mencakup biosekuriti ketat, efisiensi pakan, dan kualitas air.
- Langkah transformasi tersebut bertujuan memperkuat daya saing ekspor udang Indonesia menghadapi kompetisi global yang ketat.
SuaraLampung.id - Nama Dipasena pernah menggetarkan pasar udang dunia. Hamparan tambak di Kecamatan Rawajitu Timur, Tulang Bawang ini bukan sekadar lahan budi daya, ia adalah simbol kedaulatan pangan sekaligus mesin ekspor yang legendaris.
Kini, setelah sekian lama berjuang melewati berbagai tantangan, Pemerintah Provinsi Lampung bertekad membangunkan kembali sang raksasa melalui strategi manajemen modern.
Langkah ini bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan sebuah transformasi total. Pemprov Lampung sadar betul bahwa untuk bertarung di panggung global, Dipasena tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memperkuat manajemen budi daya. Baginya, petambak harus dipersenjatai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi berkelanjutan.
"Kita tidak hanya bicara soal infrastruktur seperti saluran inlet dan outlet yang diperbaiki," ujar Bani, Sabtu (25/7/2026).
"Lebih dari itu, ini tentang penguatan manajemen kualitas air, efisiensi pakan, dan penerapan biosekuriti yang super ketat."
Mengapa biosekuriti menjadi harga mati? Di dunia udang, penyakit adalah musuh yang bisa menghancurkan investasi dalam semalam.
Dengan pengawasan ketat dan pendampingan teknis, petambak Dipasena kini diarahkan untuk menjadi lebih profesional dan mandiri.
Ambisi besar ini bukan tanpa alasan. Lampung adalah salah satu lumbung udang terbesar di Indonesia dengan catatan produksi mencapai 59.613 ton pada tahun 2023.
Baca Juga: Palsukan Dokumen Sporadik Tanah, Pria di Bandar Lampung Masuk Penjara
Namun, di pasar luar negeri, udang Lampung harus beradu siku dengan negara-negara raksasa seperti Ekuador, India, Vietnam, dan Thailand.
Persaingan ini brutal. Pembeli global sangat sensitif terhadap mutu. Sedikit saja kualitas tidak stabil, pemasok akan langsung berpaling.
"Efeknya sering dirasakan langsung oleh petambak. Harga di tingkat farm bisa anjlok saat pasar global oversupply," tambah Bani.
Namun, di tengah tekanan itu, ada celah peluang. Perubahan kurs mata uang belakangan ini justru membuat udang asal Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional.
Inilah momentum emas yang ingin ditangkap Pemprov Lampung dengan mendorong sertifikasi mutu, traceability (ketertelusuran), dan jaminan keamanan pangan. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Palsukan Dokumen Sporadik Tanah, Pria di Bandar Lampung Masuk Penjara
-
Transaksi Tembus Rp3,1 Miliar! Belanja dan Pesona Budaya di Bandar Lampung Expo 2026
-
Lampung Bersiap Transformasi dari Lumbung Mentah Jadi Raksasa Hilirisasi Pangan Nasional
-
Petaka Kencan MiChat: Niat Antar Gadis Pulang, Pemuda di Lampung Utara Malah Ditodong Senpi
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Membangkitkan Raksasa yang Tertidur: Misi Besar Lampung Kembalikan Kejayaan Udang Dipasena
-
Palsukan Dokumen Sporadik Tanah, Pria di Bandar Lampung Masuk Penjara
-
Transaksi Tembus Rp3,1 Miliar! Belanja dan Pesona Budaya di Bandar Lampung Expo 2026
-
Lampung Bersiap Transformasi dari Lumbung Mentah Jadi Raksasa Hilirisasi Pangan Nasional
-
Petaka Kencan MiChat: Niat Antar Gadis Pulang, Pemuda di Lampung Utara Malah Ditodong Senpi