- Tim gabungan BKSDA dan Polda Lampung menggagalkan penyelundupan 1.532 burung liar di Tol Trans Sumatera, Jumat (1/5/2026).
- Ribuan burung tanpa dokumen resmi tersebut rencananya akan dikirim dari Kota Metro menuju pasar gelap di Bekasi.
- Sopir ditahan untuk proses hukum sementara seluruh burung menjalani proses habituasi sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya.
SuaraLampung.id - Jarum jam menunjukkan pukul 01.30 WIB, Jumat (1/5/2026). Di bawah remang lampu jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar (Bakter) KM 70, kesunyian dini hari pecah.
Sebuah mobil Isuzu ELF bernomor polisi K 7626 KB dihentikan paksa oleh tim gabungan BKSDA Bengkulu-Lampung dan PJR Polda Lampung.
Sekilas, mobil itu tampak seperti angkutan barang biasa. Namun, saat pintu belakang dibuka, aroma pengap dan suara cuitan riuh yang tertahan langsung menyergap petugas. Di dalamnya, bertumpuk 63 keranjang plastik dan 13 kardus bekas minuman instan yang disusun sedemikian rupa.
Bukan makanan atau barang pecah belah, isinya adalah 1.532 ekor burung liar yang sedang diculik dari habitatnya di Lampung untuk dibawa menyeberang ke Pulau Jawa.
Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini bermula dari "nyanyian" masyarakat. Laporan warga mengenai adanya pengiriman satwa ilegal segera direspons dengan koordinasi kilat bersama kepolisian.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan seribuan burung tersebut tidak memiliki dokumen resmi. Mereka dikemas secara tidak layak dalam ruang yang sangat sempit," ujar Agung, Sabtu (2/5/2026).
Dari ribuan burung tersebut, 10 ekor di antaranya teridentifikasi sebagai spesies yang dilindungi undang-undang. Rencananya, ribuan "penyanyi hutan" ini akan dikirim dari Kota Metro menuju Bekasi, Jawa Barat.
Kini, sang sopir beserta kendaraannya harus mendekam di Pos PJR Kotabaru untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum.
Penyitaan ini hanyalah puncak gunung es dari krisis keanekaragaman hayati Indonesia. Marison Guciano, Direktur Eksekutif Flight, yayasan perlindungan burung, membeberkan fakta mengerikan.
Baca Juga: Drama Penggagalan Penyelundupan Burung di Balik Jok Bus di Pelabuhan Bakauheni
Dalam delapan tahun terakhir, setidaknya 300.000 burung liar asal Sumatra berhasil disita petugas sebelum sampai ke pasar gelap.
"Jawa adalah pasar terbesar. Kami mencatat ada sekitar 11.100 toko burung dan 125 pasar burung yang tersebar di sana. Hobi kicau mania telah berubah menjadi industri yang mengancam kepunahan masal di alam liar," tegas Marison.
Marison memperingatkan bahwa ini bukan sekadar masalah hilangnya suara burung di hutan. Ini adalah ancaman nyata bagi ketahanan pangan. Burung liar adalah pengendali hama alami paling efektif.
"Ketika populasi burung di alam menurun drastis, ledakan hama seperti belalang akan terjadi. Tanaman pangan menjadi rentan, dan petani kita yang akan menanggung kerugian paling besar. Ekosistem kita sedang kehilangan keseimbangannya," tambahnya.
Bagi 1.532 burung yang selamat ini, perjalanan mereka tidak berakhir di dalam kardus. Saat ini, mereka tengah menjalani proses habituasi di kawasan Tahura Wan Abdul Rahman. BKSDA bekerja sama dengan Flight memastikan burung-burung ini mendapatkan kembali kekuatannya sebelum dilepasliarkan secara bertahap. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Drama Penggagalan Penyelundupan Burung di Balik Jok Bus di Pelabuhan Bakauheni
-
Kicauan Kebebasan di Tahura Wan Abdul Rachman: 942 Ekor Burung Kembali ke Habitatnya
-
Adu Cerdik di Gerbang Bakauheni: Bongkar Taktik Pintu Sabu 36 Kg yang Gagal Diselundupkan
-
Merpati Kolongan Warga Bandar Lampung Rp3,5 Juta Digasak, Dijual Cuma Seharga Pulsa
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
Transaksi Rp270 Juta, Nasabah BRI Infinite Prioritas Berkesempatan Raih GarudaMiles
-
Dobrak Stagnasi 5 Ton, Teknologi Tani Modern di Lampung Sukses Lipat Gandakan Panen Jadi 11 Ton/Ha
-
Modus Baru! Pura-pura Jogging Pagi, Residivis di Bandar Lampung Gasak Motor yang Lagi Dipanaskan
-
Sempat Unggah Status Medsos Saat Mancing, Kakek di Pringsewu Ditemukan Mengapung di Sungai
-
'Tokoh' Pesantren di Way Kanan Diciduk di Kaltim Usai Bertahun-tahun Cabuli Santriwati