- Ratusan sapi di Desa Tegal Yoso, Lampung Timur, diduga terjangkit PMK menyebabkan kematian dan kerugian peternak.
- Peternak mengeluhkan minimnya penanganan Dinas Peternakan hingga Selasa, 24 Maret 2026, meskipun dinas telah mengirim petugas.
- Meskipun ada wabah, harga jual sapi hidup di pasaran dilaporkan relatif stabil dan penjualan masih berjalan normal.
SuaraLampung.id - Ratusan ekor sapi di Desa Tegal Yoso, Kecamatan Purbolinggo, diduga terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Wabah ini dilaporkan terjadi di tiga dusun dan menyebabkan kerugian bagi peternak setempat.
Sejumlah sapi dilaporkan mati akibat penyakit tersebut. Selain itu, puluhan sapi lainnya terpaksa dijual dengan harga murah karena dalam kondisi sakit.
Salah satu peternak, Priyanto, mengatakan wabah PMK menyerang Dusun 1, 2, dan 3 dengan kondisi yang cukup parah. “Puluhan sapi mati, puluhan lainnya dijual murah, dan sebagian masih tergeletak tak berdaya,” kata Priyanto, Selasa, 24 Maret 2026.
Ia menyebut hingga saat ini belum ada penanganan langsung dari Dinas Peternakan setempat. Kondisi tersebut membuat para peternak semakin khawatir.
“Mungkin masih suasana Lebaran, jadi belum ada petugas yang datang. Kondisi sapi warga sudah sangat kritis,” ujarnya.
Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Lampung Timur, Dwi Giyarti, membenarkan adanya laporan tersebut. Pihaknya mengaku telah mengambil langkah awal dengan mengirimkan petugas ke lokasi.
“Iya benar, kami sudah monitor dan mengirim dua petugas ke lapangan, yakni tenaga medik dan mantri hewan. Informasi lanjutan akan kami sampaikan,” ujar Dwi saat dihubungi.
PMK merupakan penyakit menular pada hewan ternak yang ditandai dengan demam tinggi, air liur berlebihan, serta luka pada bagian mulut dan kuku. Sapi yang terjangkit biasanya terlihat lemas, tidak nafsu makan, dan mengalami pincang.
Untuk mencegah penyebaran, peternak diimbau segera memisahkan hewan yang sakit dari yang sehat serta melaporkan kasus ke petugas kesehatan hewan.
Selain itu, kebersihan kandang perlu ditingkatkan melalui penyemprotan disinfektan secara rutin. Peternak juga diminta tidak menjual ternak yang sedang sakit karena berpotensi menularkan virus.
Sementara itu, pengusaha jual beli sapi asal Desa Labuhanratu VI, Kecamatan Labuhanratu, Pingi, mengakui saat ini memang tengah memasuki musim penyakit PMK. Namun, ia menilai masyarakat sudah mulai mampu menangani secara mandiri.
“Biasanya peternak kasih jamu tradisional dan suntik vitamin sendiri. Menurut saya justru lebih efektif dibanding menunggu penanganan,” ungkap Pingi.
Ia menambahkan, meski wabah terjadi, harga sapi di pasaran relatif stabil. Saat ini, harga sapi hidup berada di kisaran Rp52 ribu per kilogram dan penjualan masih berjalan normal, termasuk ke luar daerah.
Kontributor : Agus Susanto
Berita Terkait
-
ABK Hilang Usai Kapal Ditabrak Kargo di Perairan Kalianda Belum Ditemukan
-
Lebih Ganas dari PMK! Ancaman Penyakit BEF Hantui Sapi Kurban di Bekasi: Telat Sehari Bisa Mati
-
Berapa Harga Sapi Kurban 2026? Ini Rinciannya Berdasarkan Jenis dan Bobot
-
Jelang Iduladha 2026, Pemprov DKI Siapkan 900 Sapi Kurban Bersertifikat Halal dan Sehat
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Penyelundupan 620 Burung Terbongkar di Pelabuhan Bakauheni: Disembunyikan di Kabin
-
BRI Bayar Dividen, Total Mencapai Rp52,1 Triliun
-
Mimpi Buruk di Pringsewu: Suami Tikam Istri di Depan Anak Hanya karena Pintu Tak Kunjung Dibuka
-
Cinta Terbentur Visa: Pria Singapura yang Jadi Petani di Tanggamus Kini Terancam Deportasi
-
Kesehatan Jadi Penghalang, 15 Jemaah Calon Haji Lampung Terpaksa Tunda Keberangkatan