Sekarang tambak yang tadinya terkena abrasi dan tidak terurus kembali dimanfaatkan warga bersamaan dengan penghijauan mangrove.
Merintis Penanaman Mangrove Sejak 2005
Syamsudin mulai merintis menanam mangrove di bibir pantai Desa Mulyosari, Kecamatan Pasirsakti, Lampung Timur, pada tahun 2005. Sebelum tahun 2005, Syamsudin merantau ke Palembang, Sumatera Selatan. Di sana ia bekerja sebagai nelayan.
Namun daerah tempat ia mencari nafkah dilanda abrasi besar-besaran. Hal ini membuat Syamsudin pulang kembali ke Lampung Timur pada tahun 2005.
Tiba di Desa Muliyosari, Syamsudin merasa prihatin melihat kondisi pantai yang gersang dan hanya ditumbuhi tanaman liat yang tidak terurus.
Dari situlah timbul niatan dirinya menanam mangrove. Syamsudin mengajak dua orang saudaranya untuk membantu menanam mangrove di pesisir pantai Desa Muliyosari.
Dalam kurun waktu dua tahun, 2005 - 2007 Syamsudin dan dua saudaranya berhasil menanam mangrove seluas 2 kilometer secara swadaya.
"Mangrove kan manfaatnya banyak menjaga ekosistem lingkungan dan tentu menjadi kemanan secara alami dari bencana alam yakni memecah ombak dan memecah angin, " kata Syamsudin.
Kini penggiat mangrove di Desa Muliyosari sudah mencapai 40 orang. Dampak mangrove yang sudah rimbun mulai dinikmati warga. Ketika puting beliung terjadi, tidak ada lagi rumah warga yang rusak. Ini karena mangrove memecah angin puting beliung.
Baca Juga: Cegah Abrasi di Kepulauan Seribu, Masyarakat Diimbau Perbanyak Tanam Bibit Mangrove
Di Desa Sukorahayu, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, ada juga sosok penggiat mangrove. Dia adalah Sumari. Pria berusia 42 tahun itu menanam mangrove di pesisir secara sukarela.
Tujuan Sumari menanam mangrove untuk menjaga pantai dari abrasi dan terpaan angin laut. Saat ini kehadiran hutan mangrove di Desa Sukorahayu menciptakan lapangan pekerjaan untuk sejumlah warganya.
"Ya awalnya hanya ingin menjaga pantai dan mengantisipasi terpaan angin besar yang bisa menerjang pemukiman," kata Sumari.
Sumari mengaku mulai menekuni sebagai pembibit mangrove pada 2018. Awalnya bibit mangrove ia tanam sendiri di pesisir Desa Sukorahayu, Kecamatan Labuhan Maringgai.
"Saat ini justru mangrove pembibitan saya banyak diminati dan terjual hingga Bengkulu. Dari penjualan bibit saya bisa menciptakan lapangan kerja. Warga sekitar saya upah harian dengan tugas memasukan bibit mangrove pada media tanam," ungkapnya.
Sekertaris BPBD Lampung Timur Titin Wahyuni mengakui bahwa Lampung Timur adalah kabupaten paling rawan bencana di Lampung.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Malam Kelam di Sungai Burung, Nelayan Muda yang Hilang Ditemukan Tak Bernyawa
-
Siasat Licik dari Karawang: Ribuan Liter Miras Cukai Fotokopi Tercegat di Bakauheni
-
BRI Siapkan KPR DP 1% Hingga Tenor 30 Tahun untuk Danantara Housing Expo 2026
-
Misteri Kardus Cokelat Berisi Jasad Bayi Gegerkan Pahoman
-
Horor Subuh di Mesuji! Saat Eks Suami Gelap Mata Lepaskan Tembakan ke Mantan Istri