- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyatakan pembangunan Tol Lematang-Panjang pada 5 Oktober 2026 bertujuan menggerakkan ekonomi daerah.
- Proyek tol tersebut berfungsi untuk memangkas biaya logistik dan menghubungkan sentra industri langsung menuju Pelabuhan Panjang.
- Pemprov Lampung berkomitmen membenahi jalan penghubung agar proyek tol mampu melipatgandakan kesejahteraan masyarakat lokal tanpa mematikan usaha setempat.
SuaraLampung.id - Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan bahwa proyek pembangunan ruas Tol Lematang–Panjang bukan sekadar proyek infrastruktur jalan biasa.
Jalur bebas hambatan ini dirancang sebagai mesin penggerak baru untuk mengubah struktur ekonomi daerah secara radikal, menyambungkan sentra-sentra industri langsung ke bibir Pelabuhan Panjang.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa orientasi pembangunan infrastruktur kini diarahkan langsung pada peningkatan nilai tambah ekonomi masyarakat dan kemudahan investasi.
"Jalan tol bukan sekadar menghubungkan kota, tetapi menghubungkan produksi dengan pasar, modal dengan peluang, serta konektivitas dengan kesejahteraan riil warga," tegas Mirza, Senin (5/10/2026).
Baca Juga:Kabur saat Digeledah di Bakauheni, Pria Pembawa Senjata Serbu AR-15 Diciduk di Loteng Ruang Guru
Keberadaan koridor Lematang–Panjang dinilai sangat vital dalam memangkas biaya logistik antarpusat manufaktur ke pintu ekspor utama Sumatra.
Mirza menargetkan, integrasi logistik ini mampu menggeser porsi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung dari ketergantungan pada sektor primer (bahan mentah) menuju hilirisasi industri olahan bernilai tinggi.
Tanpa jalur konektivitas yang efisien, produk unggulan pertanian dan perkebunan Lampung rentan hanya diekspor mentah ke luar daerah.
"Melalui tol ini, kami ingin mengubah struktur PDRB dari sektor primer didorong ke industri olahan. Investor butuh kepastian akses tol yang terhubung ke pelabuhan, dan inilah yang sedang kami siapkan," ujarnya.
Kebutuhan infrastruktur terpadu ini kian mendesak seiring lonjakan drastis sektor pariwisata daerah. Data Pemprov Lampung mencatat, arus kunjungan wisatawan melesat dari 17 juta orang pada 2024 menjadi 27 juta orang pada 2025.
Baca Juga:Sindikat Copet Emak-emak Penggasak Duit Nasabah di Pasar Bukit Kemuning Dibekuk di Balam
Jalur transportasi cepat dipandang sebagai kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut. Kendati demikian, orang nomor satu di Lampung ini memberi catatan penting bahwa jalan tol tidak boleh berdiri sebagai menara gading yang justru mematikan pelaku usaha lokal.
Guna mencegah ketimpangan ekonomi dan serbuan kompetisi luar, Pemprov Lampung berkomitmen membenahi jalan-jalan arteri, jalan kabupaten, hingga akses desa sebagai jalur pengumpan (feeder road).
"Manfaat tol sangat bergantung pada kondisi jalan penghubung dari kantong-kantong produksi, permukiman, dan destinasi wisata. Keberhasilan tol tidak lagi diukur dari panjang aspalnya, melainkan seberapa jauh ia mampu melipatgandakan kesejahteraan masyarakat lokal," pungkasnya. (ANTARA)