- Insiden viral kekerasan guru dan siswa terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, pada Selasa (13/1/2026).
- Perkelahian dipicu teguran guru karena kata tak pantas, berlanjut adu jotos hingga siswa diduga mengeroyok guru.
- Situasi memuncak, guru mengacungkan celurit untuk membubarkan massa; kini Dinas Pendidikan melakukan mediasi penyelesaian konflik.
SuaraLampung.id - Insiden kekerasan yang melibatkan siswa dan guru SMK Negeri 3 di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, menjadi viral di media sosial pada Selasa (13/1/2026).
Berikut fakta-fakta penting yang perlu diketahui:
1. Kejadian Bermula dari Teguran Guru ke Siswa
Insiden bermula saat guru berinisial Agus Saputra menegur salah satu siswa karena dianggap menggunakan kata-kata tidak pantas di area kelas saat jam pelajaran. Teguran itu kemudian memicu emosi di antara siswa dan guru.
Baca Juga:Cek Fakta: Setelah Bertemu Tersangka Ijazah Palsu, Jokowi Dituding Intervensi Hukum?
2. Guru Dipanggil dengan Kata-Kata Kasar, Kemudian Memukul
Agus mengungkapkan, jika peristiwa berawalnya dari dirinya dipanggil dengan kata-kata yang kasar tidak hormat oleh siswa. Dalam kondisi emosional, dia sempat menampar siswa tersebut sebagai respons atas teguran yang tidak sopan.
3. Cekcok Mulut Berujung Baku Hantam
Insiden itu tidak berhenti pada 'teguran biasa'. Argumen antara guru dan siswa memuncak menjadi cekcok mulut dan adu jotos yang terekam dalam video viral. Perkelahian tersebut terjadi di dalam lingkungan sekolah saat jam belajar masih berlangsung.
4. Siswa Diduga Mengeroyok Guru
Baca Juga:Cek Fakta: Hoaks! Tautan Pinjaman BRI Sampai Rp500 Juta, Ini Bahayanya!
Setelah adu mulut memanas, sejumlah siswa dilaporkan melakukan pengeroyokan terhadap guru Agus. Video yang beredar menunjukkan suasana sempat mencekam dan ramai di SMK tersebut.
5. Guru Mengacungkan Celurit untuk Membubarkan Kerumunan
Dalam situasi terdesak, Agus sempat mengacungkan celurit — senjata tajam yang biasa ada di lingkungan SMK pertanian, dengan tujuan meminta para siswa agar bubar. Ia menegaskan tindakan itu bukan untuk menyerang, tetapi sebagai cara untuk menghentikan keributan.
6. Siswa Sebut Guru Menghina ‘Miskin’
Versi pihak siswa mengatakan keributan dipicu oleh kalimat yang dianggap menghina martabat siswa, seperti menyebut “miskin”. Agus membantah niat tersebut, menyatakan itu dimaksudkan sebagai motivasi, bukan penghinaan.
7. Mediasi dan Penanganan oleh Dinas Pendidikan