SuaraLampung.id - Fotografer Sigit Prasetyo memutuskan tidak akan menerima pekerjaan memotret di gereja dan tempat ibadah agama lain selain Islam.
Keputusan Sigit Prasetyo untuk tidak memotret di gereja dan tempat ibadah agama selain Islam setelah dirinya memutuskan hijrah.
Sigit Prasetyo dikenal sebagai salah fotografer terkenal di dunia fotografi dengan bayaran yang cukup fantastis.
Sebelum hijrah, Sigit Prasetyo pernah dibayar Rp180 juta saat mendapat pekerjaan foto wedding orang India di Afrika.
Baca Juga:Momen Haru Sungkeman di Pernikahan Gagal Diabadikan, Emak-emak Mondar-mandir Halangi Fotografer
"Gua pernah diundang motret di Afrika, pergi bertiga naik Emirates. Yang gua foto orang India. Tinggal di sana 14 hari, motret 7 hari. Dibayarnya lebih dari 3 digit. Sekitar Rp180 juta," cerita Sigit dikutip dari YouTube kasisolusi.
sebagai fotografer yang memulai karier dari tahun 2005, Sigit Prasetyo menerima semua tawaran pekerjaan seperti foto wedding di gereja, foto party dan foto-foto wanita tak berhijab.
Namun setelah memutuskan hijrah, Sigit menolak semua tawaran pekerjaan foto di gereja dan foto wanita tidak berhijab.
Proses hijrahnya Sigit dimulai di tahun 2017 ketika usainya menginjak 40 tahun. Sebelumnya kata Sigit, sang istri sudah ikut pengajian sementara dirinya hanya mengantar sang istri ke pengajian.
Di tahun 2017, sang istri membuat postingan mengenai umur 40 adalah saat menentukan bagi seseorang dimana jika ia masih menjalani kebiasaan buruk hal ini akan terus berlangsung sampai mati.
Baca Juga:Pengantin Perempuan Nekat Batalkan Pernikahan, Alasannya Gegara Mempelai Pria Lupa Pesan Fotografer
"Gua ga sengaja lihat postingan istri gua tentang itu. Itu tiba-tiba ada di feed gua. Lagi tiduran terus gua baca, tiba-tiba aja itu ngerasa ada transisi gua harus berubah sekarang atau kan ngeri ya cerita 40 tahun itu lu jadi bener atau tetap begitu seterusnya," kata Sigit.
Tolak Foto Wedding Nonmuslim
Ketika belum hijrah, Sigit Prasetyo mengaku masih memiliki pemikiran bekerja memfoto adalah baik karena mencari nafkah untuk istri dan anak.
"Dulu gua ngerasa bahwa biasa-biasa aja. Gua kerja nyari nafkah. Emang apa yang salah nyari nafkah? Kan untuk anak istri. Waktu itu," ujarnya.
Setelah hijrah dan belajar agama menurut Sigit ternyata banyak batasan-batasan agama yang ditabrak selama ini.
Sigit tidak mau lagi menerima job yang masuk ke tempat ibadah agama lain dan pekerjaan-pekerjaan yang dinilai melanggar syariat Islam.
"Secara hukum Islam, masuk ke tempat ibadah agama lain hukumnya tidak boleh, memotret perempuan tidak berhijab tidak boleh. Pernah dapat tawaran memotret lesbi dan gay. Waktu gua nyari nafkah itu, masa sih ga boleh, sampai batasan masa sih ga boleh gua kerjain, termasuk motret di gereja misalnya. Setelah belajar lagi, banyak bertanya akhirnya ga boleh deh," paparnya.
Sigit juga tidak mau lagi memotret after party orang-orang mabuk karena menganggap ikut mensyiarkan kemaksiatan.
"Meskipun gua motret orang party gua ga minum bir juga, tapi ternyata gua mensyiarkan, itu yang gua ga tau waktu itu. Lu motret orang mabuk tapi keren membuat orang-orang jadi pengen mabuk juga kaya mereka supaya lu fotoin lagi. Kan gitu," beber Sigit.