SuaraLampung.id - Malam Lailatul qadar merupakan malam yang paling mulia di seribu malam lainnya. Malam yang memiliki keutamaan. Sehingga, Allah pun merahasiakan waktu terjadinya.
Hal ini agar umat muslim terus berusaha untuk menemui malam tersebut dengan amalan saleh dan tekun. Lalu apakah bulan malam lailatul qadar hanya ada di bulan Ramadhan?
Sejumlah ulama menyebut lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan, meskipun tidak diketahui secara persis kapan waktunya. Bila diperhatikan kebiasaan Rasulullah, beliau sangat bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh terakhir Ramadhan.
Melansir website NU, Aisyah mengatakan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,” (HR Al-Bukhari).
Baca Juga:Di Lampung, Melumpuhkan Begal Bakal Diganjar Penghargaan Kapolda
Dalam riwayat lain, Rasulullah memerinci lailatul qadar biasanya terjadi malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan. Rasulullah berkata:
Artinya, “Lailatul qadar terjadi bulan Ramadhan saja, namun menurut Abu Hanifah juga bisa terjadi pada setiap bulan. Pendapat yang pertama ketat, sementara pendapat kedua lebih longgar.”
Argumentasi pendapat pertama sangatlah banyak. Terdapat banyak dalil yang menjelaskan bahwa lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan.
Salah satunya adalah hadits yang dikutip di atas. Sementara argumentasi pendapat kedua, yang menyatakan lailatul qadar bisa terjadi tiap bulan bahkan tiap hari didasarkan pada ilham dan pengalaman spiritual.
‘Ali Al-Khawwas mengatakan:
Artinya, “Lailatul qadar adalah setiap malam di mana manusia mendekatkan diri kepada Allah. Inilah dasar pendapat orang yang mengatakan lailatul qadar ada di setiap bulan. Saudaraku, Syeikh Afdhaluddin menceritakan bahwa ia melihat lailatul qadar pada bulan Rabiul Awwal dan Rajab. Karena itu, maksud ayat 'Inna Anzalnahu fi Lailatul Qadr' adalah malam pendekatan. Setiap malam yang bisa mendekatkan (hamba kepada Tuhan) adalah lailatul qadar.”
- 1
- 2