- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyerahkan bantuan fasilitas solar dryer di Pekon Ampai, Pesawaran, pada Kamis (8/10/2026).
- Bantuan tersebut bertujuan mengatasi kerugian petani kakao akibat penjualan biji basah yang harganya anjlok saat musim hujan.
- PT Permodalan Nasional Madani menyalurkan pembiayaan senilai Rp318 juta kepada 50 debitur petani kakao untuk memperkuat permodalan awal.
SuaraLampung.id - Jurang pendapatan petani kakao di Lampung selama ini bukan semata persoalan panen, melainkan jebakan musim dan minimnya teknologi pascapanen.
Selama puluhan tahun, petani terpaksa menjual kakao basah dengan harga anjlok di kisaran Rp20.000–Rp30.000 per kilogram saat musim hujan karena ketiadaan alat pengering.
Padahal, jika dikeringkan secara sempurna, harganya bisa melesat hampir empat kali lipat hingga menyentuh Rp80.000 per kilogram.
Melihat ironi tersebut, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong desentralisasi hilirisasi hingga ke tingkat tapak (desa).
Petani tak boleh lagi sekadar menjadi penonton di rantai pasok industri yang selama ini lebih banyak memperkaya industri berskala besar.
"Strategi Lampung ke depan adalah mendesain struktur ekonomi yang inklusif, mengentaskan kemiskinan. Hilirisasi dan nilai tambah harus dieksekusi langsung dari sumber bahan bakunya, yaitu di desa-desa," tegas Mirza saat menyerahkan bantuan fasilitas solar dryer di Pekon Ampai, Marga Punduh, Pesawaran, Kamis (8/10/2026).
Mirza menyoroti nasib petani yang selama ini seolah bermain lotre dengan cuaca. Mereka hanya bisa menikmati harga tinggi selama 3 hingga 4 bulan saat musim kemarau.
"Cokelat itu mahal kalau kering. Tapi petani kita cuma bisa menikmati harga mahal beberapa bulan saja karena cuaca," ujar Mirza lugas.
Dari total kue komoditas Lampung yang menyumbang sekitar Rp150 triliun dalam PDRB daerah, Mirza membeberkan fakta mengejutkan.
Baca Juga: Tancap Gas Awal 2027! Proyek PLTP Rajabasa Bakal Serap 2.000 Pekerja, Kuota Lokal 80 Persen
Baru sekitar Rp40 triliun (kurang dari 30 persen) yang menikmati nilai tambah hilirisasi di daerah. Sisanya mengalir keluar dalam bentuk bahan mentah.
Kehadiran kubah pengering surya (solar dryer) hasil kolaborasi dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dinilai menjadi pintu masuk bagi petani untuk memutus rantai ketergantungan tersebut, sehingga mereka dapat memproduksi biji kakao kering berkualitas secara konsisten sepanjang tahun.
Pesawaran bukan lokasi sembarangan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat wilayah ini sebagai lumbung kakao terbesar di Lampung dengan bentangan lahan 25.000 hektare dan produksi mencapai 21.000 ton per tahun.
Gubernur Mirza mematok target agar Pekon Ampai tidak sekadar menjadi desa pengguna teknologi, melainkan pusat perakitan mesin.
"Harapan saya, Pekon Ampai bukan hanya mengeringkan kakao, tapi bisa mencontoh, merakit sendiri alat solar dryer ini, lalu menjualnya ke sentra-sentra kakao lain di pesisir Lampung," imbuhnya.
Hilirisasi ini kian diperkuat lewat skema closed-loop yang didorong OJK, menghubungkan akses permodalan, jaminan offtaker (pembeli siaga), hingga riset pendampingan.
Berita Terkait
-
Tancap Gas Awal 2027! Proyek PLTP Rajabasa Bakal Serap 2.000 Pekerja, Kuota Lokal 80 Persen
-
Tergiur Kunci Tertinggal di Parkiran Dermaga, Buruh Pelabuhan Panjang Nekat Bawa Kabur Motor
-
Inflasi Lampung Terendah se-Sumatera, Gubernur: Jaga Harga Saja Tak Cukup
-
Gagal Gantung Diri karena Tali Putus Usai Habisi Penagih Utang, Pria di Lambar Menyerahkan Diri
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Buntut Tolak Layani Pria Hidung Belang, Pemandu Lagu di Tubaba Diseret Paksa hingga Terluka
-
Tancap Gas Awal 2027! Proyek PLTP Rajabasa Bakal Serap 2.000 Pekerja, Kuota Lokal 80 Persen
-
Himpitan Ekonomi Berujung Duka: Seorang Kurir Paket di Tanggamus Ditemukan Meninggal Tragis
-
Bisnis Gelap Berjalan 6 Bulan, Sindikat 'Penyedot' Bio Solar di Way Kanan Digulung Polisi
-
Tergiur Kunci Tertinggal di Parkiran Dermaga, Buruh Pelabuhan Panjang Nekat Bawa Kabur Motor