Wakos Reza Gautama
Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:55 WIB
Ilustrasi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi tidak boleh berhenti di atas kertas statistik semata. Pengendalian harga, tegasnya, wajib diimbangi dengan peningkatan riil pendapatan masyarakat. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Badan Pusat Statistik mencatat laju inflasi bulanan Lampung melambat tajam menjadi 0,14 persen pada September 2026.
  • Pemerintah Provinsi Lampung mempercepat perbaikan infrastruktur serta memacu produktivitas petani guna menjaga pasokan dan mengendalikan harga pangan.
  • Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Lampung tetap aman, meskipun mewaspadai risiko cuaca ekstrem dan ketidakpastian harga global.

SuaraLampung.id - Laju inflasi di Provinsi Lampung melambat tajam pada September 2026. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi bulanan (month to month) Lampung menyentuh angka 0,14 persen, jauh lebih jinak dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 0,30 persen.

Capaian ini menempatkan Lampung, bersama Sumatera Utara, sebagai provinsi dengan inflasi terendah di Pulau Sumatera, sekaligus menembus jajaran lima provinsi paling stabil se-Indonesia.

Kendati sukses menahan gejolak harga pangan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi tidak boleh berhenti di atas kertas statistik semata. Pengendalian harga, tegasnya, wajib diimbangi dengan peningkatan riil pendapatan masyarakat.

"Harga kita jaga, tapi penghasilan masyarakat juga harus kita kuatkan. Ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar angka ekonomi yang cantik, melainkan apakah masyarakat benar-benar merasa hidupnya semakin ringan dan punya masa depan lebih baik," ujar Mirza.

Di balik meredanya inflasi, Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah taktis di sektor hulu dan logistik. Guna memastikan pasokan pangan tidak terhambat dan memicu lonjakan harga, Pemprov mempercepat perbaikan 62 ruas jalan provinsi dan 24 jembatan sentra distribusi.

Selain infrastruktur jalan, produktivitas petani dipacu melalui program Desaku Maju, pembagian mesin pengering (dryer), pasokan pupuk hayati cair, serta pendampingan UMKM desa.

Upaya ini terbukti efektif di lapangan. Laporan Bank Indonesia (BI) dan BPS mencatat, penurunan harga pada komoditas bawang merah, daging ayam ras, bawang putih, jagung manis, dan minyak goreng menjadi penopang utama deflasi parsial.

Melimpahnya panen bawang merah lokal di Pringsewu, Pesawaran, dan Lampung Barat berhasil meredam lonjakan harga cabai dan beras.

Meski BI memproyeksikan inflasi Lampung bakal aman di rentang sasaran 2,5±1 persen hingga pengujung 2026, sinyal waspada tetap dinyalakan.

Baca Juga: Gagal Gantung Diri karena Tali Putus Usai Habisi Penagih Utang, Pria di Lambar Menyerahkan Diri

Secara tahunan (year on year), inflasi Lampung masih berada di angka 3,51 persen, sedikit di atas rata-rata nasional (3,28 persen).

BI mengingatkan adanya risiko cuaca ekstrem akibat El Nino yang sewaktu-waktu dapat memangkas produksi gabah, ditambah ketidakpastian harga komoditas global yang masih membayangi.

Load More