- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyatakan pada 18 Agustus 2026 bahwa daerahnya menolak hanya menjadi penghasil bahan mentah.
- Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan penyebaran 82 unit mesin pengering senilai Rp27,36 miliar untuk meningkatkan kualitas hasil panen petani.
- Hilirisasi komoditas pertanian bertujuan mendongkrak kesejahteraan 735.894 rumah tangga petani serta membangun kedaulatan ekonomi daerah.
SuaraLampung.id - Selama ini, Provinsi Lampung dikenal sebagai pintu gerbang Sumatera. Namun, bagi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, predikat itu dirasa belum cukup.
Lampung tak ingin lagi hanya menjadi jalur perlintasan truk-truk pengangkut bahan mentah yang menuju luar daerah. Mirza ingin Lampung menjadi dapur raksasa yang mengolah kekayaannya sendiri.
"Kita tidak ingin Provinsi Lampung hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah," tegas Rahmat Mirzani Djausal, Selasa (18/8/2026).
Pernyataan sang Gubernur bukan tanpa alasan. Di balik hamparan hijau bumi Ruwa Jurai, tersimpan angka-angka fantastis yang mencengangkan.
Bayangkan saja, produksi pisang Lampung mencapai 2 juta ton dengan nilai ekonomi menembus Rp30 triliun. Padi menyumbang Rp25,48 triliun, sementara ubi kayu atau singkong mencatat angka Rp10,16 triliun.
Sayangnya selama ini sebagian besar komoditas unggulan tersebut keluar dari Lampung dalam bentuk apa adanya.
Padahal, jika diolah menjadi produk turunan melalui hilirisasi, nilai tambahnya bisa berlipat ganda, lapangan kerja baru akan tercipta, dan kesejahteraan 735.894 rumah tangga petani di Lampung akan terdongkrak drastis.
"Hilirisasi adalah solusi. Inilah bagian dari ikhtiar kita untuk membangun kedaulatan ekonomi Lampung," lanjut Mirza.
Langkah konkret pun mulai dipacu. Pemerintah Provinsi Lampung tidak hanya menebar janji, namun mulai memperkuat infrastruktur di tingkat desa.
Baca Juga: Kado Merdeka di Balik Jeruji: 718 Napi Lapas Bandar Lampung Dapat Remisi, Satu Orang Langsung Pulang
Pada tahun 2026, ditargetkan sebanyak 82 unit mesin pengering komoditas senilai Rp27,36 miliar akan disebar. Tujuannya memastikan hasil panen petani punya kualitas standar industri sebelum masuk ke tahap pengolahan.
Potensi yang dipertaruhkan memang sangat besar. Selain pisang dan padi, Lampung adalah raksasa nanas (Rp6,29 triliun), kakao (Rp4,36 triliun), hingga kopi (Rp654 miliar).
Dengan posisi strategis sebagai penghubung Jawa dan Sumatera, Lampung memiliki segala syarat untuk bertransformasi dari sekadar lumbung pertanian menjadi pusat industri hilir. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Sasis Bawah Innova Reborn Dilas Plat Besi demi Sabu 27 Kg, Dua Kurir Terancam Hukuman Mati
-
Kisah Haru Erin, Gajah Berbelalai Buntung yang Kerap 'Minder' di Way Kambas
-
Bongkar Salon & Pintu HR-V, Polisi Sita 9.954 Cartridge Etomidate Sabu Rp29,8 Miliar di Bakauheni
-
BMW Angkut 50 Kg Sabu Rp50 Miliar Rontok di Bakauheni, 3 Kurir Tergiur Upah Rp300 Juta
-
Musim Kemarau Mengintai, Diskes Bandar Lampung Uji Massal Kualitas Sumur Warga