SuaraLampung.id - Seorang narapinda atau warga binaan di Lapas Lampung disebutkan menjadi pengendali sindikat jual beli beras secara online di media sosial. Hal ini terungkap seteralah polisi mengungkapkan kasus yang melibatkan dua tersangka lainnya.
Polisi beberkan modus dan peran dari tiga pelaku sindikat penipuan online jual beli beras melalui sosial media Facebook yang dikendalikan dari Lapas di Lampung.
Wakil Direstui Ditreskrimsus Polda Sumsel AKBP Putu Yudha Prawira mengungkapkan terdapat tiga pelaku, yakni US (34) ialah seorang wanita serta kakak iparnya seorang pria berinisial FR (46), keduanya warga Bandar Lampung.
Satu pelaku lainnya, OY (24) yang merupakan otak dari kasusnya adalah warga Bangun Rejo Lampung Tengah ialah narapidana di Lapas dengan kasus pencabulan anak.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, ternyata OY merupakan pelaku utama yang mengendalikan dalam lapas dan yang menghubungi korban via Facebook,” ucap AKBP Putu Yudha Prawira SIK MH didampingi Kasubdit Siber AKBP Fitriyanti.
“Disitu OY, telah mempersiapkan akun Facebook dengan mengaku sebagai seorang pemilik gudang beras di Lampung, kemudian pelaku menghubungi korban melalui WhatsApp, ke nomor korban,” ujarnya menjelaskan.
Korban MF melakukan pembayaran dua kali, dengan total mencapai Rp85 juta kepada pelaku untuk pembelian 10 ton beras. Korban kemudian mengirimkan truk ke gudang di wilayah Lampung.
Setibanya truk tersebut, dan beras telah di droping ke truk, sopir yang ingin pulang ke Palembang diminta pemilik gudang untuk membayar.
“Korban yang terkejut dimintai uang kembali kemudian menunjukkan bukti transfer ke pada pelaku, yang di akui pemilik gudang bukan rekeningnya disitulah korban baru tahu kalau dirinya ditipu. Jadi korban terpaksa kembali membayar ke pemilik gudang,” terang ia melansir sumselupdate.com-jaringan Suara.com.
Baca Juga: Sindikat Penipuan Jual Beras Online di Sumsel Terbongkar, Dikendalikan dari Lapas
Merasa ditipu, korban pun melaporkan penipuan tersebut ke Polda Sumsel.
Para pelaku terancam Pasal 35 Jo Pasal 51 Ayat (1) UU RI No 19 Tahun 2016 Perubahan atas UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dengan ancaman pidana penjara paling lama 12 tahun dan atau denda paling banyak 12 miliar.
Berita Terkait
-
Sindikat Penipuan Jual Beras Online di Sumsel Terbongkar, Dikendalikan dari Lapas
-
Masa Jabatan Wali Kota Palembang Berakhir, Dewan Usulkan 3 Sosok Putra Daerah Sebagai PJ
-
Detik-Detik Pesepeda Dijambret di Jalan Protokol Sudirman: Palembang Kok Terasa Gak Aman
-
Kloter I Debarkasi Palembang Tiba, Kondisi Jemaah Dipantau 2 Pekan
-
Konsumsi Pertamax di Sumsel Meningkat 11 Persen, Pertamina Ungkap Penyebabnya
Terpopuler
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Erin Taulany Klarifikasi Soal Komentar Hamil Duluan: Sumpah Demi Allah Akun Saya Dibajak
- Media Israel Sindir Presiden Prabowo: Setahun Lalu Dukung Kami Sekarang Teriak Free Palestina
Pilihan
-
Miras Oplosan Tewaskan 4 Orang di Cianjur, 2 Korban Masih Kritis
-
Tangis Ibrahim al-Madani Saat Pertama Azan di Masjidil Haram, Sang Muazin Tutup Usia di 51 Tahun
-
Merumuskan Kembali Bisnis Media Masa Depan di Local Media Summit 2026
-
KPK OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena
-
KPK Geledah Rumah Mewah Polisi Yayat Sudrajat di Depok, Terkait Kasus Suap Bekasi
Terkini
-
Status Gunung Anak Krakatau Turun ke Level Waspada, Zona 2 Km Tetap Terlarang
-
Gubernur Lampung Instruksikan Pangkas Izin Perumahan: Atasi Backlog Tak Cukup Andalkan Bedah Rumah
-
Diduga Rem Blong, Fuso Oranye 'Sapu' Antrean Kendaraan di Jalan Pramuka: Korban Dilarikan ke RS
-
Truk Ekspedisi Mundur Mendadak di Bandar Lampung: Hantam Pom Mini, Warung Kelontong Ludes Terbakar
-
Skandal Korupsi Masjid Agung Mesuji dan Kredit Fiktif Rp6,7 Miliar Dibongkar Polda Lampung