SuaraLampung.id - Di China ditemukan adanya penularan COVID-19 melalui pencampuran tetesan di udara yang membentuk aerosol.
Apabila aerosol ini terhirup, maka orang yang menghirup udata tersebut akan terinfeksi COVID-19. Hal ini dikenal dengan sebutan transmisi aerosol.
Potensi meluasnya COVID-19 sangat besar setelah seorang warga di Provinsi Shandong menggali kebun sayur berdekatan dengan seorang tanpa gejala, seperti laporan media China, Kamis (14/4/2022). Padahal keduanya sama-sama mengenakan masker.
Berdasarkan survei epidemiologi dan analisis mahadata yang diunggah di WeChat resmi pemerintah Distrik Taierzhuang, Kota Zhaozhuang, Provinsi Shandong, warga tersebut tertular melalui transmisi aerosol.
Otoritas Taierzhuang menyatakan bahwa kasus tersebut terjadi pada Maret saat pihaknya mengingatkan warga agar mengenakan masker saat berada di luar ruang, demikian Jimu News.
Kasus positif COVID-19 melalui transmisi aerosol tersebut diyakini telah menyebabkan penambahan kasus harian secara massif di berbagai daerah di China.
Seorang yang terkonfirmasi positif di Kota Ningbo, Provinsi Zhejiang, kemungkinan besar menularkan virus kepada dua sopir di dalam garasi bawah tanah saat kaca jendela mobil terbuka dan tak satu pun dari mereka mengenakan masker.
Pusat pencegahan dan pengendalian penyakit menular di Ningbo mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kemungkinan COVID-19 melalui transmisi aerosol.
Spekulasi penularan melalui partikel udara tersebut juga muncul saat seorang perempuan lansia di Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, terkontaminasi virus setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit terdekat dan dikunjungi oleh seseorang yang positif COVID-19.
Baca Juga: Duh! Warga China Dihantui Kecemasan, Penyebaran COVID-19 Melalui Transmisi Aerosol Mulai Terjadi
Transmisi aerosol dapat terjadi di ruang kecil atau terbatas seperti lift dan gedung bioskop. Beberapa patogen dapat bergerak jauh melalui partikel halus di udara dan virus dapat bertahan lama setelah mereka membentuk aerosol.
Para ahli menyarankan bahwa ventilasi dan desinfeksi yang baik dapat mengurangi konsentrasi aerosol dan pemakaian masker bedah dapat memberikan pencegahan yang efektif.
Komisi Kesehatan Nasional China, Kamis, melaporkan bahwa pada Rabu (13/4/2022) terdapat 3.020 kasus baru, sebanyak 2.999 di antaranya merupakan kasus lokal. Selain itu juga terdapat 26.391 kasus baru tanpa gejala.
Penambahan kasus tersebut merupakan rekor di China. Sebanyak 266.230 kasus tanpa gejala sampai saat ini masih menjalani observasi medis. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
3 Tahun Hidup Serumah dengan Predator: Evakuasi Buaya 2,7 Meter di Balam Berlangsung Dramatis
-
Polres Metro Bongkar Praktik Bisnis Gelap Solar Subsidi: Modus Borong SPBU untuk Ditimbun
-
Sikapi Jalsah Salanah Ahmadiyah di Lamsel, MUI Lampung: Tolak Aksi Sweeping
-
Pulang Sekolah Ditodong Senpi, Bocah 13 Tahun di Way Kanan Jadi Korban Begal
-
Berawal dari Topi Mengapung, Pemancing yang Hilang di Eks Galian Pasir Lampung Timur Ditemukan Tewas