- Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan meletus tiga kali dengan kolom abu setinggi 500 meter pada Minggu (18/10/2026).
- PVMBG mencatat aktivitas vulkanik tersebut dan menetapkan gunung api tersebut berada pada status Level III atau Siaga.
- Masyarakat serta nelayan dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif demi keselamatan bersama.
SuaraLampung.id - Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali mengalami erupsi pada Minggu (18/10/2026). Dalam rentang waktu siang hari, aktivitas letusan tercatat tiga kali, dengan kolom abu tertinggi mencapai sekitar 500 meter di atas puncak.
Aktivitas vulkanik ini menjadi perhatian karena Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dan pengunjung diminta mematuhi rekomendasi keselamatan, termasuk tidak mendekati gunung api dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan aktivitas erupsi tersebut tercatat oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 18 Oktober 2026.
Berdasarkan hasil pengamatan, erupsi pertama terjadi pukul 11.44 WIB. Saat itu, kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah utara.
Baca Juga:Gunung Anak Krakatau Naik Level Siaga, BPBD Lampung: Belum Ada Dampak Abu Vulkanik
Erupsi kembali terjadi pada pukul 12.01 WIB. Kolom abu yang terlontar mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau 657 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu pada erupsi kedua tersebut juga teramati berwarna hitam, berintensitas tebal, dan condong ke arah utara. Aktivitas itu terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi sekitar 41 detik.
Erupsi ketiga tercatat pada pukul 12.59 WIB. Kali ini, kolom abu mencapai sekitar 100 meter di atas puncak atau 257 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu pada letusan ketiga berwarna kelabu hingga hitam, dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah timur laut. Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 56 milimeter dan durasi sekitar 36 detik.
Gunung Anak Krakatau masih berstatus Siaga
Baca Juga:Status Gunung Anak Krakatau Melesat ke Level Siaga: Zona Bahaya 5 Km Dikunci
Suwarno menegaskan, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Karena itu, masyarakat maupun pengunjung diminta tidak mendekati gunung api dan tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.
Pemantauan aktivitas vulkanik dilakukan secara intensif selama 24 jam melalui pengamatan visual dan instrumental. Data pemantauan tersebut digunakan untuk menilai perkembangan aktivitas gunung api, menentukan langkah mitigasi, serta mengantisipasi potensi bahaya.
Selain meminta masyarakat menjaga jarak dari kawah aktif, Suwarno mengingatkan nelayan yang beraktivitas di Perairan Selat Sunda agar memperhatikan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau serta kondisi cuaca sebelum melaut.
Masyarakat juga diimbau tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai aktivitas gunung api sebaiknya merujuk pada lembaga berwenang.
Kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan dan pemantauan informasi secara berkala menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.