- Badan Geologi ESDM menaikkan status Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menjadi Siaga sejak Jumat malam.
- Otoritas memberlakukan zona larangan dalam radius lima kilometer untuk menghindari ancaman batu pijar dan lahar.
- Masyarakat diminta tetap tenang, mengabaikan isu tsunami, serta memantau perkembangan resmi melalui portal Badan Geologi.
SuaraLampung.id - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda melonjak drastis. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan status gunung api legendaris tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga), terhitung sejak Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB.
Menyusul kenaikan status darurat ini, otoritas terkait langsung memberlakukan zona larangan aktivitas (red zone) dalam radius 5 kilometer dari pusat kawah aktif.
Ketetapan tersebut tertuang dalam surat resmi evaluasi Badan Geologi Nomor 1729.Lap/GL.03/BGL/2026. Berdasarkan catatan seismik, gunung api ini menunjukkan lonjakan aktivitas agresif sejak awal Oktober, dengan rentetan 14 kali erupsi terdeteksi hanya dalam kurun waktu 6 hingga 9 Oktober.
Puncaknya terjadi pada Jumat (9/10/2026), di mana rekaman seismograf mencatat sembilan kali letusan beruntun hingga pukul 19.20 WIB dengan amplitudo maksimum mencapai 55 milimeter dan durasi hingga 32 detik.
Baca Juga:Status Gunung Anak Krakatau Turun ke Level Waspada, Zona 2 Km Tetap Terlarang
Pengamatan visual merekam kepulan asap kawah kelabu pekat hingga hitam membubung setinggi 50 meter dengan intensitas tekanan sedang.
Badan Geologi memperingatkan masyarakat, nelayan, maupun wisatawan untuk menarik diri dan mengosongkan seluruh kawasan dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Selain itu, aktivitas apa pun dilarang keras dalam jarak 1 kilometer dari pulau baru yang terbentuk di sektor barat laut dan tenggara gunung.
Langkah evakuasi dari radius bahaya ini diambil guna menghindari potensi bencana fatal, seperti lontaran batu pijar bersuhu tinggi, paparan hujan abu pekat, aliran lahar panas, hingga erupsi sekunder akibat reaksi kontak lava membara dengan air laut.
Meski peningkatan ke Level Siaga menuntut kewaspadaan tinggi, Badan Geologi mengimbau masyarakat pesisir pantai di kawasan Banten dan Lampung agar tetap tenang dan tidak termakan spekulasi liar.
Baca Juga:Gempa Menurun tapi Dapur Magma Krakatau Masih Bergeliat, Ahli Itera Beri Peringatan Ini!
"Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai isu yang menyebut erupsi Anak Krakatau saat ini berpotensi memicu gelombang tsunami. Beraktivitaslah seperti biasa sembari terus mengikuti panduan resmi dari BPBD setempat," bunyi instruksi resmi Badan Geologi.
Masyarakat dapat memverifikasi dan memantau perkembangan terkini vulkanik Gunung Anak Krakatau secara real-time melalui portal resmi Badan Geologi di geologi.esdm.go.id/pvmbg serta laman Magma Indonesia (magma.esdm.go.id).