Refleksi Dunia Film Tanah Air di mata Mira Lesmana dan Ernest Prakasa

mereka berbincang mengenai pencapaian, situasi terkini, tantangan, serta harapan terhadap industri film Indonesia.

Wakos Reza Gautama
Jum'at, 01 April 2022 | 10:49 WIB
Refleksi Dunia Film Tanah Air di mata Mira Lesmana dan Ernest Prakasa
ILustrasi Mira Lesmana. Mira Lesmana berbagi perspektif mengenai dunia film tanah air. [Wahyu Tri Laksono/Suara.com]

SuaraLampung.id - Para pelaku industri film berbagi perspektif menarik yang menjadi refleksi untuk perkembangan perfilman Indonesia dalam angka perayaan Hari Film Nasional 2022 yang jatuh pada 30 Maret.

Mira Lesmana, Ernest Prakasa, Muhammad Zaidy, dan Shanty Harmayn, membagi pandangannya mengenai perkembangan dunia film tanah air. 

Dikutip dari program On the Scene yang tayang di kanal YouTube Netflix Indonesia, mereka berbincang mengenai pencapaian, situasi terkini, tantangan, serta harapan mereka terhadap industri film Indonesia.

Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak film Indonesia yang meraih penghargaan - baik dari dalam negeri maupun kancah global.

Baca Juga:Kisah Keberanian Tentara Pelajar Korea, Ini 7 Fakta Film 71: Into the Fire

Menurut produser Miles Films, Mira Lesmana, hal ini menjadi sebuah kebanggaan dan motivasi bagi para sineas untuk semakin berlomba membuat mahakarya.

“Kita semua yang berada di industri film Indonesia berusaha untuk membuat karya terbaik yang bermakna dan memiliki kualitas yang semakin bagus," kata Mira, dikutip dari siaran resmi Netflix, Jumat (1/4/2022).

Mira juga menegaskan bahwa sebaiknya para sineas jangan pernah merasa telah mencapai cinematic excellence, dan justru terus berusaha untuk menggapainya.

Produser BASE Entertainment, Shanty Harmayn, menegaskan bahwa industri perfilman Indonesia harus memperkenalkan genre-genre baru dan bagaimana metode untuk penceritaan harus sangat eksploratif.

“The demand of watching saat ini sudah berbeda. Penonton lndonesia tidak hanya menonton film lokal, tetapi dimanjakan dengan begitu banyak variasi. Oleh karena itu, industri film Indonesia harus mengeksplor genre-genre baru.”

Baca Juga:Dari BTS hingga TWICE, Ini Grup K-Pop yang Sukses Merilis Film Dokumenter

Sutradara Ernest Prakasa turut berpendapat bahwa selain mengeksplorasi genre, para sineas dapat mencoba melakukan breakthrough dengan ide-ide yang selama ini dianggap kurang menjual. “Contoh-contoh kecil seperti itu bagi saya sangat refreshing,” ujarnya.

Masa pandemi yang dimulai pada tahun 2020 menjadi tantangan tersendiri bagi semua orang, tak terkecuali para sineas Indonesia. Di tengah situasi yang cenderung membuat frustrasi, mereka mencoba untuk beradaptasi dan semakin menyadari pentingnya berkolaborasi.

“Ketika menghadapi tantangan yang semakin besar, seperti pandemi ini, kita harus berkolaborasi dan saling bertukar ide karena kita gak bisa menghadapinya sendirian,” ujar Shanty.

Di sisi lain, Produser Palari Films, Muhammad Zaidy (Eddy) berpendapat bahwa situasi pandemi bisa menjadi penanda zaman, “Ada dua jenis film yang dapat dilihat dari zamannya; film setelah Perang Dunia II dan film yang lahir setelah atau saat pandemi COVID-19. Saya rasa itu juga menjadi sebuah penanda bagaimana karya-karya itu dikenal dan mungkin kita bisa mengidentifikasinya di kemudian hari.”

Eddy pun menyampaikan rasa terima kasihnya terhadap streaming platform yang “ketika di masa-masa sulit, filmmaker dapat terbantukan karena kami punya platform untuk tetap berkarya.”

Dia juga menambahkan bahwa bioskop dan streaming platform harus hidup berdampingan dan para sineas harus bisa beradaptasi.

Para sineas merasa optimistis terhadap masa depan industri film Indonesia. Mereka berharap ke depannya lebih banyak sekolah film yang berdiri untuk melahirkan sineas muda, lebih banyak perempuan yang bekerja di industri film dan cerita tentang perempuan, serta terciptanya lingkungan yang aman bagi para pekerja film di industri ini.

Selain itu, Ernest juga berharap semakin banyak penonton yang menghargai hasil kerja keras para sineas Indonesia dengan tidak menonton karya di platform bajakan. Ia juga menilai platform streaming dapat membantu untuk meningkatkan solidaritas dan apresiasi terhadap film-film Indonesia. (ANTARA)

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak