facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Mantan Jubir KPK Anggap Kasus Harun Masiku Dagelan

Wakos Reza Gautama Jum'at, 04 Juni 2021 | 10:48 WIB

Mantan Jubir KPK Anggap Kasus Harun Masiku Dagelan
Ilustrasi Harun Masiku. Mantan jubir KPK Febri Diansyah anggap kasus Harun Masiku dagelan. [dokumentasi demokrasi]

Kritik tajam mengenai perburuan Harun Masiku ini datang dari mantan Juru Bicara KPK Febri Diansyah

SuaraLampung.id - Keseriusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap buronan Harun Masiku dipertanyakan. KPK dianggap seperti membiarkan begitu saja Harun Masiku bebas. 

Kritik tajam mengenai perburuan Harun Masiku ini datang dari mantan Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Menurut Febri, kasus Harun Masiku seperti dagelan.

Melalui akun Twitternya, Febri mempertanyakan alasan KPK yang mengirimkan surat ke National Central Bureau (NCB) Interpol Indonesia agar menerbitkan red notice Harun Masiku pada Senin (31/5).

Menurutnya, surat itu sudah sangat terlambat mengingat Harun Masiku sudah menjadi buronan sejak 27 Januari 2020 lalu. Hal ini membuktikan KPK tidak serius untuk menangkap Harun Masiku.

Baca Juga: Kasus Pengadaan Tanah di Munjul, KPK Telisik Proses Awal Pembelian Lahan

"Waktu berselang, tim KPK yang lain berhasil menangkap sejumlah buron. Sementara Harun Masiku masih entah dimana, entah dicari atau dibiarkan lari?," sindir Febri di Twitter seperti dikutip oleh Suara.com, Jumat (4/6/2021).

Lebih lanjut Febri membongkar kebusukan KPK yang dinilai menyingkirkan pegawai terbaik mereka melalui tes wawasan kebangsaan (TWK). Terlebih, penyidik KPK yang dinonaktifkan itu kebanyakan memiliki sepak terjang yang bagus dalam memberantas korupsi.

"Sayangnya, Penyidik KPK yang berhasil menangkap sejumlah buron justru disingkirkan melalui TWK," kritik Febri.

Febri menyebut penyidik KPK yang disingkirkan lewat TWK itu ada yang mengetahui keberadaan Harun Masiku. Sayang, ia sudah tidak bisa menangkap Harun Masiku karena sudah dinonaktifkan dari jabatannya.

"Sekarang, penyelidik yang mengetahui keberadaan Harun Masiku justru tidak bisa menangkap karena ia termasuk yang disingkirkan karena TWK," beber Febri.

Baca Juga: Eks Jubir KPK Bongkar 'Dagelan' Harun Masiku: Dicari atau Dibiarkan Lari?

"Dan seperti baru ingat, pimpinan KPK baru smpaikan telah ajukan red notice ke Interpol di 31 Mei 2021 kemarin. 1 tahun 4 bulan kemudian sejak Harun Masiku jadi DPO," lanjutnya.

Febri pun menyebut semua itu adalah perjalanan cerita tentang dagelan kasus Harun Masiku. Ia mengakhiri kritikannya dengan penuh pertanyaan mengapa KPK tidak serius menangkap buronan kasus korupsi tersebut.

"Itulah perjalanan cerita tentang 'dagelan' kasus Harun Masiku," tegas Febri.

"Kenapa Pimpinan KPK tidak serius menangkap Harun Masiku? Apakah terkait dengan nama politikus lain yang muncul di persidangan?," tutupnya.

Cuitan Febri itu langsung dibanjiri komentar oleh warganet. Banyak dari mereka yang mendukung pernyataan Febri dan mengkritik kinerja KPK sekarang ini.

"Kalau orangnya ada di Indonesia, ngapain bikin red notice ke NCB? Dagelan banget nih rezim ruwaibidhah," komen warganet.

"Momentum yang pas. Biar kelihatan langkahnya. Tidak mau di bilang melemahkan KPK lewat TWK. Sekaligus menjawab pertanyaan publik. Sudah kebaca arahnya bang. Pencitraan," tambah yang lain.

"Harun Masiku masih buron tapi kok lama ya? Apa sengaja dilindungi oleh partai dan negara?," tanya warganet.

"Mungkin kedepan Harun Masiku bakal tertangkap supaya terkesan KPK new dianggap lebih bisa kerja, tapi nantinya yang bikin greget mungkin proses pengadilannya dan hukumnya. Takutnya juga bukti pentingnya udah banyak yang hilang atau dirobek seperti kasus yang pernah rame apalagi penyidiknya orang lain," kata warganet.

"Maklumin ajalah bang. Namanya juga dilindungi. Tapi kalau ketangkap bisa kaya bendahara itutuhh. Kebuka semuanya," ujar warganet.

"Setelah penyidik yang 'gak bisa dibina' tersingkir dan diganti penyidik baru mungkin bisa 'disetting' maka diambil langkah yang seolah-olah gercep," sahut warganet.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait