Menurut Deddy Corbuzier, konten kreator bikin konten seperti itu bukan hanya ingin pamer tapi cari duit. Deddy mencontohkan konten Andre Taulany tukar-tukaran mobil dan konten Atta pamer mobil.
Konten-konten seperti itu, kata Deddy Corbuzier, ditonton jutaan orang. Jika para artis itu membuat konten edukasi, menurut Deddy, penontonnya sedikit.
"Saya ini struggling loh. Struggling gila-gilaan bikin podcast ini dengan harapan ditonton orang. Akhirnya berhasil ya. Seperti Aldi Taher nanya kenapa saya ngundang Dinar Candy? Ditonton. SAya ga mau podcast saya satu arah. Politik terus. Ketawa terus," kata Deddy.
"Faktanya konten-konten pamer kekayaan ditonton. Konten-konten edukasi tidak ditonton. Ini sama seperti tv lama-lama. Tv coba, acara saya juga bungkus lama-lama. Kenapa? karena terlalu edukatif. Tapi kalo isinya cuma joget-jogetan, ketawa, ngalay, ditonton," jelas Deddy.
Baca Juga:Artis Pamer Barang Mewah, Deddy Corbuzier: Mereka Cari Duit Lewat Konten
Kenapa hal itu terjadi? Menurut Deddy Corbuzier, ini karena pendidikan masyarakat Indonesia masih rendah. Orang-orang seperti ini, kata Deddy, masih bisa dijual mimpi. Orang-orang seperti itu, tutur Deddy, ikut bahagia ketika orang yang pamer kekayaannya bahagia.
"Jadi salah ga Andre, Atta, Raffi buat konten seperti itu? Ga salah karena penontonnya ada. Sama kaya pelacuran. Yang nyari ada. Rokok dilarang tapi dijual karena ada pasarnya," ujar Deddy.
"jadi menurut saya Ade Armando tidak salah membuat konten tersebut. Dia benar karena khawatir apa yang akan terjadi pada bangsa kita.
"Tapi membuat konten pamer kekayaan tidak salah karena mereka tahu market mereka, mereka tahu penonton mereka, mereka yakin ditonton dan menghasilkan uang. Yang salah adalah netizen dan pola pendidikan di Indonesia," ujar Deddy Corbuzier.
Baca Juga:Dikira Pacari Ivan Gunawan oleh Orang Thailand, Deddy Corbuzier Sewot