Hal serupa pun juga disampaikan oleh Liza bahwa faktor pertemanan juga dapat menjadi pendorong seorang anak atau remaja untuk mulai merokok. Sebab, seorang anak terutama remaja sangat membutuhkan penerimaan atau pengakuan dari lingkungannya.
Sehingga pada saat ikut merokok dengan teman-teman, dia pun akan merasa diakui dan diterima oleh lingkungannya.
"Kedua bisa juga karena pengaruh lingkungan di lingkungan remaja atau anak-anak. Karena kalau berbicara anak dan remaja, khususnya remaja, mereka itu kan punya kebutuhan yang sangat besar untuk bisa diterima lingkungan," ujar Liza.
"Sehingga ketika lingkungannya, khususnya teman-teman mereka yang terdekat merokok tuh mereka jadi berpikir 'Kayaknya gue mesti ikutan'. Apalagi kalau teman-temannya juga ngejek-ngejek. Jadi bisa karena pengaruh itu juga," sambungnya.
4. Terpapar oleh konten
Di sisi lain, Psikolog dari Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto mengatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan sangat berperan untuk menimbulkan kebiasaan merokok. Akan tetapi, kebiasaan untuk merokok juga dapat timbul dari konten-konten yang dilihat oleh sang anak baik dari media sosial atau media formal.
"Banyak kemungkinan terkait alasan anak atau remaja merokok. Mulai dari aspek genetik, pola asuh, hasil belajar, sampai peran lingkungan termasuk konten media baik media formal mau pun media sosial," kata Kasandra.
Pernyataan itu juga dijelaskan oleh Liza. Menurutnya, saat seorang anak atau remaja sudah terpapar oleh konten-konten merokok, hal tersebut pun sudah terprogram secara tidak langsung di otak mereka.
Sehingga, hal ini juga berkenaan dengan tingkat stres mereka. Saat sang anak atau remaja merasa stres, mereka akan langsung mengaktivasi program merokok yang telah mereka miliki di dalam otaknya. Oleh sebab itu, hal inilah yang menyebabkan mereka mencoba untuk mulai merokok.
Baca Juga: Remaja Palestina Tewas Ditembak Pasukan Israel, Kedua dalam Sepekan
"Bisa juga karena stres. Karena tidak ada exposure dari lingkungan, dari kecil tidak ada ejek-ejekan dari teman, tapi kan dia sering melihat orang merokok. Jadi program merokok itu sudah ada di kepala. Sudah ada di otak. Tinggal tunggu aktivasinya nih," papar Liza.
"Nah ketika dia merasa stres, bisa teraktivasi 'Merokok saja kali ya, Enak". Itu karena dia sudah sering melihat mungkin di film atau apa pun itu yang berkaitan dengan orang merokok," tutupnya. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Remaja Palestina Tewas Ditembak Pasukan Israel, Kedua dalam Sepekan
-
Remaja 15 Tahun Jadi Korban Tentara Israel, Tewas Tertembak di Punggung dan Leher
-
Lagi Remaja Palestina Ditembak Mati Militer Israel
-
Parah, Remaja 15 Tahun di Marangkayu Kutai Kartanegara Nekat Curi Motor Teman Sendiri
-
Sinopsis Film 'Deep', Jangan Tertidur Kamu Bisa Mati!
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Sinyal Keras MUI Lampung: Siap Ketuk Palu Fatwa Haram Rokok Elektrik Jika Terbukti Membahayakan
-
Injak Kepala Teman hingga Tewas, Pelarian Buronan Pringsewu Kandas di Tangan Tekab 308
-
Ibu di Tubaba Ditemukan Hangus Usai Rumahnya Ludes Dilalap Si Jago Merah
-
Jebakan WA Berujung Bui: Polisi Nyamar Jadi Pelanggan, Mami Prostitusi di Metro Tak Berkutik
-
Solusi Cerdas di Balik Limbah MBG: Polinela Sulap Sisa Makanan Jadi Duit Lewat Magot