"Betul tidak setiap hari ada wisatawan, namun gajah memiliki daya ingat tinggi jika lokasi tersebut sering di gunakan aktivitas manusia maka gajah tidak akan lagi mau mendatangi lokasi dimaksud," kata Toni.
Menjadi sumber ekonomi
Wisatawan asing dari Australia, Amerika, Jerman, Belgia, Singapura, Jepang dan Filipina, adalah wisatawan luar negeri yang sering berkunjung ke lokasi ekowisata.
Setiap berkunjung wisatawan asing memilih menginap, Masyarakat menyadari ada peluang usaha dengan membuat homestay. Di Desa Braja Harjosari saat ini ada delapan Homestay yang dikelola oleh pemilik masing masing.
"Seperti saya juga punya homestay. Satu malam kami pungut biaya Rp 200 ribu plus sarapan pagi. Biasanya wisatawan asing bermalam hingga lima hari," kata Toni.
Namun sejak Indonesia dilanda pandemi Covid-19 dua tahun belakangan, ekowisata di dua desa itu sepi. Padahal sebelumnya, dalam satu bulan bisa tiga kali rombongan wisatawan dari luar negeri tiba di desa penyangga.
Hujan mengguyur Dusun Gunung Agung, Kecamatan Braja Selebah, Lampung Timur, Lampung, Minggu (7/11/2021). Homestay dengan bercorak khas Bali dengan pelataran penuh tanaman bunga berbagai jenis, kantil, kenanga, Kamboja dan lainnya, menjadi selimut alami lokasi Homestay milik Toni.
Jadi Lokasi Penelitian
Sepuluh mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia berada di Desa Braja Harjosari dan Desa Braja Yekti, Lampung Timur, untuk mengerjakan Studi Independen Bersertifikat (SIB).
Baca Juga: 7 Wisata di Bali Tersembunyi, Indahnya Nggak Ada Obat
Program SIB adalah program yang digalakkan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Nama program tersebut yakni Kampus Merdeka berdasarkan Pemendikbud No.3 tahun 2020 tentang standar Nasional pendidikan tinggi.
"Ini sepuluh mahasiswa yang saat ini sedang melakukan SIB selama tiga bulan, dari Oktober hingga Januari," ucap Toni selaku pendamping mahasiswa tersebut selama melakukan Studi Independen Bersertifikat.
Kata Toni, dari sepuluh mahasiswa dibagi dua kelompok. Lima orang di Desa Braja Harjosari dan lima orang di Braja Yekti.
Kedua desa tersebut merupakan desa penyangga hutan Way Kambas yang memiliki potensi Ekowisata, sehingga kehadiran sepuluh mahasiswa yang di tugaskan melalui program Kemendikbud itu bertujuan untuk membentuk SDM dua desa penyangga tersebut terkait pengelolaan kawasan ekowisata.
"Sebenarnya program ekowisata di desa kami sudah berjalan, dengan sistem ekowisata paket. Pengunjungnya mayoritas dari luar negeri, ada juga wisatawan domestik. Kehadiran adik-adik mahasiswa ini bisa menambah SDM kepada masyarakat tentang pengelolaan dan pemasarannya," tutur Toni.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
Amuk Massa di Mesuji: Warga Bakar Ponpes Nurul Jadid karena Kasus Asusila Pimpinan Pondok
-
Bentuk Tim Khusus, Polda Lampung Buru Pelaku Penembakan Brigadir Arya Supena
-
Sempat Duel dengan Pelaku, Detik-detik Brigadir Arya Ditembak Bandit Curanmor di Bandar Lampung
-
Sempat Viral Letuskan Senpi, Salah Satu Pelaku Curanmor di Bandar Lampung Diringkus Polisi
-
Ditembak Bandit Curanmor di Bandar Lampung, Brigadir Arya Meninggal Dunia