AKBP Syaiful Anwar adalah perwira polisi yang berlatar belakang dari Kesatuan Brigade Mobil (Brimob).
Lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1999, AKBP Syaiful Anwar langsung ditempatkan di Korps Brimob Polri. Setahun kemudian ia menjalani pendidikan dasar perwira Brimob.
Tahun 2003, AKBP Syaiful Anwar menjalani pendidikan jabatan Komandan Kompi. Di tahun 2007, ia lulus dari Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Lalu 10 tahun kemudian pada 2017 ia selesai menjalani Pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan (sespimmen).
Pada tahun 2018, AKBP Syaiful Anwar ditunjuk menjadi Komandan Batalyon C Pelopor Satuan Brimobda Jawa Tengah. Setahun kemudian ia dimutasi menjadi Komandan Batalyon Gegana Polda Jawa Tengah.
Korban Ledakan Gudang Amunisi
Pada 14 September 2019 terjadi ledakan gudang amunisi di Markas Brimob Srondol, Jawa Tengah. Ledakan gudang amunisi terjadi pada pukul 07.00.
Gudang yang meledak adalah gudang peledak temuan masyarakat. Awalnya terjadi 3 ledakan kecil disusul beberapa ledakan besar.
Saat ledakan terjadi AKBP Syaiful Anwar menjabat sebagai Komandan Batalyon Gegana Polda Jawa Tengah. Rumah yang ia tempati saat itu berjarak 50 meter dari lokasi gudang yang meledak.
Ketika ledakan terjadi, AKBP Syaiful Anwar melihat dari jendela rumahnya. Ledakan itu mengakibatkan AKBP Syaiful Anwar terkena serpihan kaca di bagian tangan dan kepala. Beruntung Syaiful hanya mengalami luka ringan.
Baca Juga: Ditendang dan Ditonjok Kapolres Nunukan, Anak Buah Sebar Video hingga Viral
Praktik Militeristik di Tubuh Polri
Komisioner Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti menyayangkan adanya tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh Kapolres Nunukan, hal ini menunjukkan praktik militeristik masih terjadi ditubuh Polri.
"Tindakan menendang dan memukul tersebut menunjukkan masih adanya praktek militeristik warisan Orde Baru yang tidak layak diterapkan di Kepolisian pasca reformasi," ujar Poengky saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (25/10/2021) malam dikutip dari ANTARA.
Menurut Poengky, jika betul anggota bersalah, masih ada cara pembinaan yang humanis yang dapat dilakukan pimpinan, antara lain dengan melakukan teguran dan hukuman yang mendidik.
Poengky sendiri mengaku belum mengetahui secara pasti duduk permasalahannya. Ia menduga, kemungkinan ada kesalahan yang dilakukan anggota.
"Meskipun demikian, penggunaan kekerasan seharusnya tidak dipertontonkan oleh pimpinan kepada anggota," ujar Poengky.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Pelajar Hilang di Curug Sri Rahayu Way Kanan
-
Teka-teki Kematian Dokter Magang di Metro: IDI Lampung Ungkap Fakta Mengejutkan
-
Urus Pajak Sambil Wisata: Stan Bapenda di Bandar Lampung Expo Jadi Primadona
-
Bukan Sekadar Biji: Ambisi Lampung Menjadi Kiblat Cokelat Premium Dunia
-
Petaka di Ujung Tol Kalianda: Perjalanan Pikap Berakhir Duka, 2 Orang Tewas