SuaraLampung.id - Evi Diana Sari (24), pekerja migran Indonesia (PMI) asal Lampung Timur bunuh diri dengan melompat dari lantai 11 hotel di Taiwan.
Kabar kematian Evi, PMI asal Lampung Timur, karena bunuh diri melompat dari lantai 11 hotel di Taiwan, sudah diketahui keluarganya di Desa Mekarjaya, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur.
Raut sedih tampak tergurat dari wajah Mujinah (60 tahun), ibu Evi, Sabtu (9/10/2021) sore. Mujinah tahu sang anak sudah tiada di tanah perantauan di Taiwan.
"Iya benar anak saya (Evi) meninggal, setelah jatuh dari lantai 11, pada Kamis (7/10/2021) di Taiwan,". kata Mujinah, saat di temui di kediamannya di Desa Mekarjaya, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, Sabtu (9/10/2021) sore.
Perempuan setengah abad lebih itu, mengatakan, Evi berangkat ke Taiwan untuk mengadu nasib pada 2019.
Evi berangkat ke Taiwan dengan status legal. Di sana awalnya Evi bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Setahun bekerja, Evi kabur dari majikannya tanpa diketahui alasan pasti. Kaburnya Evi ini membuat statusnya menjadi PMI Ilegal.
"Kami, keluarga besar kepikiran, jenazah anak saya bisa diurus pulang ke Indonesia apa nggak, karena statusnya sudah tidak resmi sebagai PMI," kata Mujinah.
Sadar status anaknya hanya sebagai PMI ilegal, Mujinah tidak menuntut banyak ke pemerintah apalagi mengenai asuransi. Harapannya hanya satu yaitu pemerintah bisa membantu kepulangan jenazah putri bungsunya.
Kepala Desa Mekarjaya, Kecamatan Bandar Sribhawono, Edy Suyitno, mengatakan sedang berusaha untuk melakukan koordinasi ke berbagai pihak untuk mengupayakan pemulangan jenazah warganya itu.
Baca Juga: Alami Cedera saat Lawan Taiwan, Begini Kondisi 3 Pemain Timnas Indonesia Sekarang
Edy berkoordinasi dengan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang menyalurkan Evi ke Taiwan dan Dinas Ketenagakerjaan Lampung Timur.
Edy mengutarakan banyak masyarakat Desa Mekarjaya menggantungkan ekonominya sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Dari 770 kepala keluarga di Desa Mekarjaya, sekitar 30 persennya menjadi PMI di luar negeri. Mayoritas kata Edy, adalah kaum hawa.
"Dengan pendidikan rendah (maaf), untuk menjadi pegawai sangat tidak mungkin, sementara jika ingin membuka usaha (bisnis) tidak memiliki modal, maka pelarian utama yakni menjadi PMI," paparnya.
Uang hasil mencari kerja di negeri orang digunakan untuk modal usaha dari berdagang hingga bertani. Tapi lanjut Edy, menjadi PMI ada risiko yang harus ditanggung. Kematian yang mengintai hingga terjadinya perceraian.
"warga saya banyak yang sukses dari TKI, ada juga yang rumah tangganya berantakan setelah jadi TKI, bahkan ada pula yang meninggal dunia saat masih menjadi TKI," ungkap Edy Suyitno.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Sebulan Menghirup Udara Bebas: Bedu Kembali Masuk Bui Usai Gasak Motor di Ponpes Kotabumi
-
Tragedi di Kebun Abung Semuli: Jilbab Robek Disabet Badik, Begal Sadis Ini Akhirnya Tumbang
-
Kepulangan Ibu yang Berujung Tangis: Sang Anak Dihabisi Masa Depannya di Kandang Kambing
-
BRI: Srikandi Pertiwi Diharapkan Dapat Perkuat Semangat Perempuan untuk Terus Berkembang
-
Ditangkap di Rajabasa, Jejak Kelam Pencuri Motor yang Tukar Hasil Kejahatan dengan Sabu