SuaraLampung.id - Anggapan perokok rentan terpapar Covid-19 tidak sepenuhnya benar.
Ini terlihat dari sebuah survei yang dilakukan Council of Scientific and Industrial Research mengenai perokok dan Covid-19.
Hasil survei lembaga itu menemukan perokok dan vegetarian justru memiliki seropositif yang lebih rendah.
Hal ini menunjukkan bahwa mereka mungkin berisiko lebih rendah terkena virus corona.
Survei itu juga menemukan bahwa mereka yang bergolongan darah O mungkin tidak rentan terhadap infeksi virus. Sedangkan, orang yang bergolongan darah B dan AB berisiko lebih tinggi.
Pada studi ini, Council of Scientific and Industrial Research (CSIR) mengambil sampel 10.427 orang dewasa yang bekerja di laboratorium atau institusi dan anggota keluarganya. Studi ini menilai keberadaan antibodi terhadap SARS-CoV-2 yang menyebabkan virus corona Covid-19.
Studi yang dipimpin oleh CSIR-Institute of Genomics and Integrative Biology (IGIB), Delhi menyebutkan sebanyak 10.14 persen dari 10.427 orang memiliki antibodi SARS-CoV-2.
Tindak lanjut pada 346 orang seropositif setelah 3 bulan mengungkapkan tingkat antibodi yang masih stabil dan tinggi terhadap virus corona. Tapi, Shantanu Sengupta, ilmuwan senior di IGIB mengatakan aktivitas plasma untuk menetralkan virus corona menurun.
Selama 6 bulan, pengambilan sampel berulang dari 35 orang menunjukkan penurunan kadar antibodi penetral yang tetap stabil dibandingkan 3 bulan sebelumnya. Tapi, antibodi normal maupun antibodi penetral masih jauh di atas ambang batas yang sesuai syarat.
Baca Juga: Gerakan Nasional Donor Plasma Konvalesen, Penyintas COVID-19 Berpartisipasi
"Kami menemukan perokok cenderung tidak seropositif adalah laporan pertama. Meskipun Covid-19 adalah penyakit pernapasan tapi temuan ini menunjukkan bahwa merokok justru melindungi seseorang," kata peneliti dikutip dari Times of India.
Studi ini juga mengutip dua penelitian dari Prancis dan Italia serta New York dan China, yang melaporkan tingkat infeksi virus corona lebih rendah di antara perokok.
Mereka juga mengevaluasi faktor risiko yang diisi oleh para peserta melalui online. Mereka mendapatkan informasi geografis, golongan darah, jenis pekerjaan dan kebiasaan seperti merokok dan alkohol, diet, riwayat kesehatan dan jenis trasnportasi yang digunakan.
Studi menemukan bahwa seropositif lebih tinggi ditemukan pada mereka yang menggunakan transportasi umum dan pekerjaan seperti keamanan, petugas rumah tangga, non-perokok dan non-vegetarian.
Pada Juli 2020, Kementerian Kesehatan Serikat mengatakan perokok cenderung lebih rentan terhadap virus corona, karena meningkatkan kemungkinan penularan virus dari tangan ke mulut.
Pihaknya juga memeringatkan bahwa penggunaan produk tembakau dapat meningkatkan keparahan infeksi saluran pernapasan dan membuat orang rentan terhadap virus corona.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- Gibran Diperkarakan di MK, Prabowo Nanti Bisa Ajukan 2 Nama Wapres ke MPR
- 5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
Pilihan
-
Kru Kapal Rombongan Wartawan Peliput Gunung Anak Krakatau Ditemukan Meninggal
-
Tes DNA Cocok: Jenazah di Pulau Enggano Dipastikan Sukarman, ABK Kapal Rombongan Jurnalis Hilang
-
116 Orang Masih Dicari, Satu Lagi Korban KM Virgo 8 Ditemukan Nelayan
-
Siswa SD Tewas Tersedak Menu MBG, JPPI Soroti SOP Keamanan Makanan hingga Penanganan Darurat
-
MBG Makan Korban Lagi, Siswa SD Lampung Meninggal Tersedak Menu Kelengkeng
Terkini
-
BRI InFrame 2026 Soroti UMKM, Inklusi Keuangan Hingga Ekonomi Pesisir
-
Deteksi Dini Lebih Nyaman, BRI Private Hadirkan Premium Medical Check Up
-
Pestapora 2026 di JIEXPO: Info Tiket & Promo Kartu Kredit BRI
-
Status Gunung Anak Krakatau Turun ke Level Waspada, Zona 2 Km Tetap Terlarang
-
Gubernur Lampung Instruksikan Pangkas Izin Perumahan: Atasi Backlog Tak Cukup Andalkan Bedah Rumah