Mengenal Wayang Sekelik, Produk Akulturasi Budaya Jawa-Lampung

Pengembangan seni wayang sekelik ini tak lepas dari latar belakang Supriyanto

Wakos Reza Gautama
Jum'at, 01 Desember 2023 | 09:36 WIB
Mengenal Wayang Sekelik, Produk Akulturasi Budaya Jawa-Lampung
Supriyanto, pembuat wayang sekelik yang merupakan akulturasi budaya Jawa-Lampung. [ANTARA]

Masyarakat dalam perkembangannya saat ini tidak memahami lineu, namun lebih paham dengan kata wayang.

Secara visual tidak ada perbedaan antara wayang sekelik dengan wayang Jawa. Tapi, bila dicermati lebih dalam ada sejumlah perbedaan.

Contohnya, ornamen gunungan dalam wayang sekelik menyimbolkan budaya Lampung. Lalu, ada Siger, Siwo Migo atau sembilan marga, serta adanya ornamen pucuk rebung dalam detail wayang.

Wayang sekelik juga memiliki sinden layaknya pementasan wayang Jawa, dimana saat pementasan akan membawakan lagu sesuai adegan seperti begurau (humor), dan panggeh-ringgeh.

Baca Juga:Bawaslu Lampung Ingatkan Peserta Pemilu 2024: Jangan Gunakan Bahan Kampanye Lebih Dari Rp 100 Ribu

"Sinden ada biasanya yang menyanyi pria dan wanita. Lalu kami pun melakukan eksplorasi mengenai tokoh-tokoh saat membuat wayang. Misalkan tokohnya berwatak tempramen maka bentuknya akan berbeda dengan bentuk tokoh protagonis," tambah Supriyanto.

Sedangkan untuk tabuhan pengiring yang dikenal sebagai Talo Balak cukup berbeda dengan iringan wayang Jawa yang menggunakan gamelan.

Dengan berbagai jenis tabuhan sesuai lagu meliputi tabuh rajo menggalo, tabuh layang kasiwan, dan tabuh alau-alau semua dimainkan tergantung kondisi serta disesuaikan dengan adegan. Seperti saat adegan sedih akan memakai tabuhan sanak miwang sebagai pengiring.

Salah satu sastra lisan Lampung yang sering digunakan sebagai topik menampilkan wayang sekelik adalah cerita tentang terbentuknya Kampung Gunung Sugih.

Dalam cerita tersebut menggambarkan adanya wilayah Lampung Tengah dahulu kala sebelum bernama Gunung Sugih, yang diberi nama Pulau Apus.

Baca Juga:13 Desa Kelurahan di Lampung Jadi Proyek Percontohan Ketangguhan Bencana

Dalam cerita tersebut ada dua lakon utama yaitu Patik Guling Sekaro dan Marskal Sigalang-galang yang berasal dari Sumatera Barat serta Sumatera Utara.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak