Sebagai kepala rumah sakit di era pergolakan, Abdul Moeloek tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Buktinya ia tidak hanya mengobati korban perang dari Indonesia, prajurit Belanda pun tetap mendapat perlakuan yang sama.
Abdul Moeloek merupakan direktur kelima Rumah Sakit Tanjungkarang. Dia lah direktur paling lama di RS Tanjungkarang selama 12 tahun (1945-1957).
Kepribadian Abdul Moeloek
Abdul Moeloek adalah orang yang haus ilmu pengetahuan. Ia mendesain sebuah ruangan di RS Tanjungkarang menjadi perpustakaan. Ketika tidak bekerja, Moeloek menghabiskan waktunya membaca buku.
Baca Juga:Telusuri Harta tak Wajar Reihana, KPK Telisik Proyek di RSUDAM Lampung
Abdul Moeloek menikah dengan Poeti Alam Naisjah dan dikarunia lima orang anak yakni 3 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan.
Dalam mendidik anak kelima putra-putrinya, Abdul Moeloek menanamkan sikap disiplin, jujur, dan tanggung jawab, bukan dengan perkataan.
Sebelum wafat tahun 1973, Abdul Moeloek berwasiat kepada istri dan anak-anaknya agar dimakamkan di kampung TPU. Dia beralasan agar menyaringya dekat masyarakat dan bisa dikunjungi kapan saja dan oleh siapa saja.
Jasadnya memakamkan di Taman Permakaman Umum (TPU) Lungsir, Telukbetung Utara. Selanjutnya pada tanggal 4 September 2015, atas persetujuan keluarga dan disaksikan langsung oleh Menteri Kesehatan saat itu, jasad Abdul Moeloek dan istri dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kedaton.
Baca Juga:Operasi Bayi Kembar Siam di RSUDAM Lampung Berhasil, Tim Dokter Butuh Waktu 5 Jam Saja