Kekejian itu disaksikan warga setempat. Ternyata Sabarudin menyimpan dendam terhadap Suryo. Dendam ini disimpan Sabarudin saat ia masih menjadi juru tulis di kantor Kabupaten Sidoarjo.
Saat itu Suryo adalah atasannya. Mereka terlibat persaingan memperebutkan cinta putri Bupati. Sang wanita ternyata lebih memilih Suryo yang memiliki pendidikan lebih tinggi dari Sabarudin.
Dari situlah Sabarudin sakit hati dan dendam terhadap Suryo. Sayangnya perbuatan Sabarudin ini tidak diproses hukum.
Tidak ada satupun petugas berwenang yang berani menegur apalagi menghukum Sabarudin. Kasus pembunuhan Suryo ini berlalu begitu saja tanpa ada proses hukum.
Baca Juga:Festifal Wakare: Perlawanan Kultural dan Tonggak Sejarah Warga Majalengka
Zainal Sabarudin Nasution lahir di Kotaraja, Aceh, tahun 1922. Biarpun lahir di Aceh, Sabarudin menghabiskan masa hidupnya di Sidoarjo, Jawa Timur. Sabarudin kecil adalah sosok pemuda pemalu dan penakut.
Saat Jepang menjajah Indonesia, Sabarudin masuk dalam tentara Pembela Tanah Air (Peta). Sabarudin mendapat pelatihan milter di Bogor.
Setelah ikut pelatihan militer inilah, perangai Sabarudin berubah. Dia yang tadinya pemalu dan penakut berubah menjadi lelaki pemberani yang brutal dan kejam.
Sayangnya, keberanian Sabarudin ini tidak ia tujukan kepada pasukan penjajah. Sabarudin justru garang terhadap rekan seperjuanganya di TNI dan kepada masyarakat.
Baca Juga:Anggota Paspampres Diduga Culik dan Bunuh Pemuda Aceh, Kok Bisa Ada Orang Brutal Banget?