"Setiap musim timuran pasti limbah tersebut muncul hingga menyisir pantai, sepertinya ada kesengajaan limbah tersebut dibuang ke sini," terang Andi Baso.
Sayangnya, kata Andi, persoalan limbah ini tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah padahal limbah tersebut sangat berdampak buruk terhadap nelayan khususnya nelayan pesisir Lampung Timur.
Dengan adanya limbah yang menyebar baik di permukaan laut atau di dalam laut membuat satwa yang ada di laut tidak akan mendekat sehingga berdampak pada hasil nelayan.
"Bukan hanya berdampak pada satwa laut, limbah yang menyerupai aspal itu juga berdampak buruk pada alat tangkap nelayan, karena limbah itu akan menempel di jaring milik nelayan yang sedang ditebar di laut," tegas Andi Baso.
Baca Juga:Air Situ Ciburuy Jadi Hitam Pekat dan Bau, DLH Bandung Barat Bakal Lakukan Ini
Dengan merebaknya limbah di pesisir laut Labuhan Maringgai, Andi Baso sebagai pengurus HNSI akan mengumpulkan sebagian nelayan untuk musyawarah mencari solusi, sebab persoalan limbah tidak kunjung selesai.
"Dulu Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi pernah turun, tahun September 2021," kata Andi Baso.
Kata Andi Baso, limbah itu muncul pada September 2021, sekarang menjelang September juga bahkan tahun ini lebih besar dari pada tahun sebelumnya.
Kontributor : Agus Susanto
Baca Juga:Kali Gandekan Kota Magelang Tercemar Limbah, Ratusan Kilogram Ikan Ternak Mati Keracunan