Tidak hanya Lingkungan, Ini 4 Faktor Penyebab Remaja Mulai Merokok

banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan seorang anak atau remaja mulai mencoba untuk merokok

Wakos Reza Gautama
Sabtu, 28 Mei 2022 | 12:27 WIB
Tidak hanya Lingkungan, Ini 4 Faktor Penyebab Remaja Mulai Merokok
Ilustrasi merokok. Penyebab remaja mulai merokok. [unsplash.com/LĂȘ Tit]

SuaraLampung.id - Banyak remaja di Indonesia memiiki kebiasaan merokok. Mulai dari coba-coba hingga akhirnya menjadi kebiasaan. 

Menurut beberapa ahli, banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan seorang anak atau remaja mulai mencoba untuk merokok.

1. Mengalami Cognitive Dissonance

Bukan hanya faktor lingkungan pertemanan saja yang umumnya memang dapat membuat anak atau remaja untuk merokok. Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie, M.Psi, CH menjelaskan bahwa terdapat beberapa alasan lainnya yang menyebabkan seorang anak merokok, mulai dari Cognitive Dissonance hingga rasa stres.

Baca Juga:Remaja Palestina Tewas Ditembak Pasukan Israel, Kedua dalam Sepekan

Dia mengatakan bahwa ketika seorang anak atau remaja sering melihat lingkungannya baik teman atau keluarga merokok, hal tersebut bisa membuat seseorang menjadi memiliki proses berpikir yang kurang tepat atau disebut Cognitive Disorder.

"Kalau kita berbicara hubungan antara anak remaja dengan perilaku merokok, itu sebenarnya banyak faktor yang terlibat. Bisa karena mereka terekspos sejak dini akan perilaku merokok orang-orang sekitarnya. Sehingga mengalami yang kalau di psikologi itu namanya Cognitive Dissonance," jelas Liza kepada ANTARA.

Lebih lanjut, Liza menjelaskan bahwa Cognitive Disonance adalah proses berfikir yang kurang tepat. Seseorang yang mengalami hal ini biasanya memiliki proses berpikir yang salah menjadi benar dan sebaliknya.

Menurut Liza, hal tersebut dikarenakan sang anak mau pun remaja sering melihat orang-orang yang dituakan dalam keluarga seperti orang tua, kakak, dan lain sebagainya memiliki kebiasaan merokok. Hal inilah yang mengakibatkan sang anak berpikir bahwa kebiasaan merokok tidak apa-apa untuk dilakukan.

"Jadi proses berfikir yang kurang tepat. Yang salah jadi benar, yang benar jadi salah. Jadi bayangkan kalau anak kecil sangat terbiasa melihat orang-orang terdekatnya, apalagi figur yang dituakan merokok kan asumsinya karena ini adalah figur orang yang dituakan, biasanya anak atau remaja cenderung melihat mereka sebagai orang yang sudah pasti benar," kata Liza.

Baca Juga:Remaja 15 Tahun Jadi Korban Tentara Israel, Tewas Tertembak di Punggung dan Leher

2. Faktor Genetik

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini