Wakos Reza Gautama
Jum'at, 02 Oktober 2026 | 13:10 WIB
Gajah dengan belalai buntung bernama Erin di Taman Nasional Way Kambas. [IST]
Baca 10 detik
  • Erin, gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas, ditemukan sekarat pada 13 Juli 2016 akibat jerat pemburu liar.
  • Pawang senior Sukowiyono dengan telaten merawat Erin selama sepuluh tahun terakhir sebagai pengganti fungsi belalainya yang terpotong.
  • Kini Erin tumbuh dengan fisik prima di TNWK meskipun mengalami trauma psikologis dan belum bisa dilepasliarkan.

SuaraLampung.id - Di antara riuh suara kawanan gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), ada satu sosok yang gerak-geriknya selalu memantik iba.

Namanya Erin. Tubuhnya kini tambun dan terawat, namun ada kepedihan permanen yang membekas di wajahnya. Belalainya terpotong separuh. Belalai itu buntung, terenggut jerat kawat pemburu liar sedekade silam.

Kisah pilu Erin bermula pada 13 Juli 2016 di belantara Susukan Baru, Way Kambas. Kala itu, Erin yang baru berusia sekitar tiga tahun ditemukan tim patroli dalam kondisi sekarat.

Tubuhnya kurus kering, belalainya membusuk akibat jeratan, dan ia ditinggalkan sendirian oleh kelompoknya karena dianggap menjadi beban perjalanan.

Bagi seekor gajah, kehilangan belalai bagaikan vonis mati perlahan. Tanpa belalai yang utuh, gajah mustahil bisa menyedot air, mencabut rumput, atau menyiramkan lumpur ke punggung untuk menahan sengatan terik matahari.

Namun takdir berkata lain ketika takdir mempertemukannya dengan Sukowiyono (56), seorang mahout (pawang gajah) senior yang telah mengabdi di Way Kambas sejak 1995.

Sepuluh tahun merawat Erin, Sukowiyono bukan sekadar bekerja; ia bertransformasi menjadi "belalai pengganti" bagi satwa malang tersebut.

"Merawat Erin itu butuh perhatian ekstra berkali-kali lipat. Karena belalainya putus, dia tidak bisa mandiri berkubang lumpur di rawa seperti gajah normal," ujar pria paruh baya itu, Kamis (1/10/2026).

Pada masa-masa awal yang berat, Sukowiyono harus telaten menyuapkan makanan langsung ke mulut Erin serta melatihnya perlahan agar bisa minum tanpa tersedak.

Baca Juga: Karhutla Mengamuk di Way Kambas hingga Dekati Kandang Gajah, Bagaimana Nasib Satwa Langka Ini?

Setiap siang terik, saat gajah lain asyik mandi sendiri, Sukowiyono dengan sabar melumuri sekujur tubuh Erin dengan lumpur basah agar suhu tubuh sang gajah tetap dingin terlindungi.

Kedekatan emosional pun dibangun perlahan. Di sela ransum pakan rutin, Sukowiyono kerap memetik seikat rumput segar khusus hanya untuk membujuk Erin agar mau melangkah mendekatinya.

Kini di usianya yang menginjak 13 tahun, kondisi fisik Erin terbilang prima. Pengecekan medis dan pemberian obat cacing rutin setiap tiga bulan menjaganya dari penyakit mematikan.

Kendati demikian, luka fisik masa kecil itu melahirkan luka psikologis yang belum sepenuhnya sembuh. Erin tumbuh menjadi gajah yang kerap menarik diri dari kehidupan sosial kawanannya.

"Namanya punya kekurangan fisik, dia cenderung minder. Kalau didekati gajah yang badannya lebih besar, Erin langsung menghindar dan menjauh. Dia baru berani membaur kalau bersama gajah-gajah kecil," tutur Sukowiyono.

Sepanjang tiga dekade menjadi pawang dan menangani enam gajah, Erin adalah satwa terakhir sekaligus yang paling menguras nurani Sukowiyono.

Load More