SuaraLampung.id - Puluhan pemuda di wilayah Kecamatan Mataram, Lampung Timur akan melakukan sweeping di setiap lokasi hiburan malam, seperti tempat karaoke, dan sejenisnya. Tujuan sweeping tersebut adalah meminta agar lokasi karaoke ditutup.
"Di kampung kami Dusun 1, Desa Matarambaru ada warga yang sedang melakukan resepsi khitanan dengan hiburan organ tunggal, pukul 21.00 tadi malam dibubarkan polisi," kata Tokoh pemuda Matarambaru Feri Perdana, Selasa (25/6/2024).
Setelah organ tunggal dibubarkan polisi, puluhan warga langsung menggeruduk mendatangi kantor polisi wilayah Kecamatan Matarambaru. Kedatangan mereka meminta klarifikasi dasar dari pembubaran hiburan di lokasi hajatan.
Polisi menjelaskan, kata Feri, pembubaran hiburan organ tunggal di lokasi hajatan masyarakat berdasarkan surat kesepakatan bersama yang dibuat pada 2017 silam, dan ditandatangani oleh Bupati dan Kapolres Lampung Timur masa itu.
Nota kesepakatan bersama antara Bupati Lampung Timur pada masa itu dijabat Chusnunia Chalim dan kapolresnya AKBP Yudhi Chandra Erlianto.
Dalam pasal 3 menjelaskan bahwa hiburan yang mendapat pembatasan waktu yaitu berupa Karaoke, klub malam, diskotik, mandi uap, griya pijat/spa, bilyard, orgen tunggal, live musik seperti band, orkes dangdut dan sejenisnya dan juga hiburan jaranan, janger wayang kulit termasuk mendapat pembatasan waktu.
"Itu dasar pihak polisi membubarkan organ tunggal di hajatan warga tempat kami. Yang kami sayangkan polisi tidak adil dalam melakukan kebijakan, faktanya tempat hiburan malam di wilayah Matarambaru seperti tempat karaoke dan minuman keras masih buka 24 jam," kata Feri Perdana.
Ke depan tokoh pemuda tersebut meminta polisi dan pemerintah kabupaten jangan hanya menargetkan tempat hajatan namun hiburan malam bisa melenggang hingga 24 jam.
Kapolres Lampung Timur AKBP M Rizal Muchtar mengatakan tindakan yang dilakukan petugas Kepolisian tersebut adalah untuk mengantisipasi gangguan keamanan agar tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Selain itu penegakan tersebut berdasarkan kesepakatan antara Bupati Lampung Timur dan Kapolres Lampung Timur pada 2017 lalu.
“Aturan sudah jelas, hiburan terkait organ tunggal apapun pukul 18.00 WIB harus berhenti. Kita menyikapi dan melihat kejadian-kejadian sebelumnya agar tidak ada anak muda yang menjadi korban jiwa lagi,” ujar kapolres.
Kontributor : Agus Susanto
Berita Terkait
-
Daftar Resto Diskon dari BRI di Lampung, Makan Puas dengan Harga Menarik
-
Karhutla Kepung Way Kambas, Pemprov Lampung Gabungkan Operasi Udara dan Ratusan Pasukan Darat
-
Yamaha Marine Perluas Layanan Mesin Tempel Dukung Sektor Bahari Indonesia
-
Viral Alasan Tolak Karaoke Demak Ditutup, Bos: Neraka Siapa yang Isi?
-
KKP Sebut Nilai Jual Ikan di Lampung Selatan Naik 20 Kali Lipat, Ini Penyebabnya
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Cekcok Transfer Uang Berujung Maut: Pemilik Kafe di Lampung Timur Tikam Pelanggan
-
Ngamuk Cuma Diberi Rp10 Ribu, Pria Bermasker Hantam Kepala Nenek 71 Tahun di Lampung Barat
-
Modal Obeng, Pemuda 20 Tahun Gasak Mobil Teman Sendiri di Kemiling Demi Gaya Hidup
-
Dobrak Mitos Ketinggian! Lampung Sukses Tanam Arabika di 800 MDPL: Berbuah Kilat Cuma 1,8 Tahun
-
3 Calon Rektor Unila Lolos ke Final: Dr Budiyono Memimpin, Suara Menteri 35 Persen Jadi Penentu